EDITORIAL: Durban, Cina, dan Komitmen Iklim
Pertemuan konferensi perubahan iklim internasional COP-17 di Durban, Afrika Selatan menelurkan sebuah hasil yang positif dan menarik. Cina menyatakan diri bersedia untuk menerima sebuah komitmen reduksi emisi yang mengikat. Sebelumnya, Cina bertahan di posisi bahwa negara berkembang tidak seharusnya diminta untuk menerima komitmen yang mengikat.
Protokol Kyoto, sesungguhnya adalah bentukan yang dirancang untuk mengikat komitmen negara-negara maju. Sayangnya, ketiadaan sangsi atas pelanggaran komitmen membuat Kyoto seakan kehilangan gigi dalam implementasi. Di bawah Kyoto, negara berkembang tidak diwajibkan untuk menurunkan emisinya.
Di sinilah letak komplikasi masalahnya. Protokol Kyoto akan berakhir pada tahun 2012. Artinya, sebuah kesepakatan baru harus didapat, yang idealnya harus mencakup pengikatan komitmen secara legal dengan disertai oleh sangsi-sangsi tertentu. Nah, kebanyakan negara maju menghendaki komitmen negara-negara berkembang agar bersedia diikat dalam kesepakatan baru ini, -paling tidak bagi negara-negara berkembang yang masuk dalam daftar pengemisi karbon terbesar dunia.
Tentu saja dapat dimengerti jika negara-negara berkembang satu suara dalam menentang hal ini. Mereka menafsirkan prinsip Common But Differentiated Responsibilities (CBDR) sebagai wacana bahwa negara berkembang harus menurunkan emisinya, namun secara sukarela. Posisi Cina yang terbaru ini tentu saja harus disikapi bersama sebagai sebuah kemajuan positif menuju tercapainya suatu kesepakatan yang mengikat.
Namun demikian, seperti ditegaskan oleh negosiatornya, Xie Zhenhua, Cina hanya akan menerima kesepakatan legal dengan beberapa prasyarat. Prasyarat tersebut adalah bahwa prinsip persamaan harus dijunjung tinggi (berarti negara berkembang memiliki hak untuk memperoleh kompensasi atas polusi historis dari negara maju), prinsip CBDR harus tetap diusung (berarti setiap negara tidak boleh disamaratakan komitmen reduksi emisinya), Protokol Kyoto harus diperbarui bagi negara maju, serta pendanaan jangka pendek dan panjang harus disediakan bagi negara berkembang.
Hal ini baru merupakan sebuah langkah kecil menuju kesepakatan bersama. Tapi media ini yakin, Cina akan dikenang sebagai negara yang berada di garda depan dalam memerangi perubahan iklim.

