EDITORIAL: Apa yang Bakal Dibahas di Durban?

Nov 25, 11 EDITORIAL:  Apa yang Bakal Dibahas di Durban?

 

Konferensi tahunan untuk membahas perubahan iklim akan berlangsung sebentar lagi dengan COP-17 di Durban, Afrika Selatan.  Banyak pihak meragukan keberhasilan Durban untuk mencapai komitmen, namun tak sedikit juga yang merasa optimis.

Tulisan editorial kali ini mencoba mengulas tentang apa yang telah dibahas dalam negosiasi, sesuai dengan poin-poin bahasan yang penting, satu demi satu.  Dari sini, semoga bisa diperoleh pandangan tentang hal-hal apa yang mungkin terjadi di Durban.

1.  Mitigasi

Badan Subsider untuk Sains dan Teknologi (SBSTA), Juni lalu di Bonn telah membahas soal panduan metodologis terkait REDD.  Di Panama, empat negara termasuk Indonesia, mempresentasikan pengalaman mereka dalam implementasi REDD+ dan soal penerapan pengamanan dalam hal ini.  Pengamanan penerapan REDD menjadi isu utama yang terus dibahas para pihak.

Badan Eksekutif CDM membentuk sebuah panel dengan 12 orang anggota untuk melibatkan masyarakat sipil, para pembuat kebijakan, dan pelaku pasar dalam sebuah dialog panjang yang akan dimulai di Durban.  Dalam 10 tahun terakhir, para pelaku CDM dari kalangan swasta telah mengembangkan mekanisme yang berjalan baik.  Mereka kini diundang untuk membagikan pengalamannya dan menerapkannya dalam mekanisme CDM yang baru.

Soal MRV, pertemuan di Panama menghasilkan kemajuan dalam konten laporan dua tahunan (BR) serta modalitas dan prosedur untuk penilaian internasional (IAR).  Draft teks mengenai hal ini telah disiapkan untuk Durban.

2.  Adaptasi

Badan Subsider Implementasi (SBI) di Durban akan membahas soal modalitas dan panduan penerapan Rencana Adaptasi Nasional (NAP) dengan mempertimbangkan hasil pertemuan para pakar NAP di Vientiane, Laos.  Durban sepertinya akan mengadopsi suatu keputusan soal ini.  Pengoperasian Komite Adaptasi juga menjadi topik yang banyak beroleh kemajuan di Panama.  Banyak pihak percaya bahwa Durban dapat menyelesaikan negosiasi soal ini dan bahkan mulai memilih anggota Komite

Sesuai mandat program Nairobi soal dampak, kerentanan dan adaptasi, Durban akan melakukan pembahasan menuju kesepakatan tentang aktivitas yang perlu dilakukan dalam fase lanjutan program ini.  Sebuah sesi gabungan SBI dan SBSTA telah dijadwalkan pada 30 November untuk membahas antara lain aspek ilmiah, teknis, dan sosial ekonomis dari dampak dan adaptasi perubahan iklim yang relevan

3.  Pendanaan

Sekretariat UNFCCC telah membuat suatu portal informasi untuk kepentingan pemantauan mekanisme pendanaan, baik secara bilateral, multilateral, atau regional.  DI Durban, sekretariat akan secara resmi meluncurkan ulang portal tersebut dengan dua modul baru yang penting, -yaitu tentang Pendanaan Jalur Cepat (FSF) dan tentang dana yang dikelola oleh Global Environment Facility (GEF).  Portal informasi ini diharapkan dapat memfasilitasi proses mobilisasi sumberdaya untuk membantu negara berkembang dalam mengimplementasikan komitmen mereka.

Durban akan melanjutkan pembahasan di Cancun soal Green Climate Fund.  Entitas ini berbeda dengan entitas-entitas dana yang ada karena secara khusus menyediakan struktur yang melibatkan sektor swasta.

Dana Adaptasi (AF) mengalami kemajuan substansial dengan mengijinkan akses langsung ke pembiayaan, dengan catatan bahwa negara yang berminat harus membentuk badan implementasi yang memenuhi syarat.  Jika ya, maka negara tersebut mendapat akses ke separuh dari jumlah yang dimiliki oleh AF.  Durban diperkirakan akan mengawal kemajuan ini dan mengimplementasikannya.

4.  Teknologi

Durban akan melanjutkan pembahasan yang ada dalam program AWG-LCA tentang transfer teknologi soal:

  • Struktur Pusat Jaringan Teknologi Iklim (CTCN)
  • Prosedur pengajuan proposal dan kriteria evaluasi pemilihan tuan rumah CTCN
  • Hubungan Komite Eksekutif Teknologi (TEC) dan CTCN
  • Kemungkinan hubungan antara mekanisme teknologi dan pendanaan serta institusi lainnya
  • Fungsi-fungsi lainnya dari TEC dan CTCN

5.  AWG-KP

Beberapa isu yang masih alot dibahas adalah tentang konversi janji negara Annex I menjadi target reduksi emisi yang dapat diterjemahkan menjadi sebuah angka.  Selain itu ada soal peran mekanisme pasar pada akhir periode komitmen pertama, dan implikasi berkurangnya jumlah para Pihak yang menandatangani periode komitmen kedua.

6.  AWG-LCA

Di minggu pertama pertemuan Durban, para negosiator diharapkan dapat menghasilkan rancangan teks yang cukup menyeluruh.  Pimpinan AWG-LCA bahkan telah mempresentasikan sebuah gambaran umum tentang elemen-elemen yang mungkin menjadi bagian dari hasil negosiasi.

Pembahasan akan mencakup isu-isu tentang visi bersama, mitigasi, adaptasi, pendanaan, teknologi, pembangunan kapasitas, dan lain-lain.

Dari daftar di atas, jelas terlihat bahwa masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk mencapai sebuah komitmen bersama.  Betul bahwa para pihak mengindikasikan kemauan kuat untuk mencapai kemajuan di Durban, mengingat bahwa Protokol Kyoto akan berakhir di 31 Desember 2012.  Media ini mendukung sepenuhnya hal tersebut, namun juga mengingatkan bahwa waktu yang sempit mensyaratkan kita kembali ke arti dasar dari istilah “pekerjaan rumah”:  sebuah pe-er yang harus dikerjakan di rumah, agar dicapai kesiapan yang sempurna untuk mencapai kemajuan.

Selamat bekerja!

 

468 ad