UNDP: Perubahan Iklim Ancam Ekonomi Global
Suatu laporan studi yang baru diluncurkan oleh United Nations Development Program (UNDP) mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi negara berkembang dapat melambat atau bahkan berjalan mundur, jika tak ada usaha “drastis” yang dilakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi dampak perubahan iklim.
Juru bicara UNDP, William Orme, menegaskan,
“Bahkan jika Anda adalah seorang yang skeptis terhadap isu ini, studi ini seperti mengatakan, ‘pinggirkan dulu pandangan tersebut.’ Jika Anda percaya terhadap komitmen moral kepada komunitas global dan pemberantasan kemiskinan, kita harus menyikapi masalah lingkungan ini.”
- Polusi Udara di Cina
Setiap kawasan di dunia menghadapi tantangan unik antara masa sekarang dan tahun 2050. Kebanyakan di antaranya berhubungan dengan komplikasi lingkungan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Kawasan sub-Sahara di Afrika misalnya, akan menderita konsekuensi yang parah jika skenario terburuk perubahan iklim terjadi. Sebagian besar penduduk Afrika bersandar kepada sumber daya alam untuk penghidupan mereka. Mereka juga tak memiliki cara untuk mengatasi masalah seperti polusi udara dan air, serta buruknya sanitasi. Peristiwa cuaca ekstrem seperti kekeringan juga dapat menghancurkan sektor pertanian, seperti proyeksi penurunan hasil produksi tanaman pangan di Afrika yang akan jatuh drastis di tahun 2030.
Sementara itu, benua Asia telah mulai merasakan dampak buruk dari polusi. Emisi sulfur dioksida dari stasiun pembangkit listrik tenaga batubara di Cina menyebabkan hujan asam yang telah ikut berkontribusi kepada gugurnya 300,000 jiwa dan 20 juta angka penyakit pernapasan.
Tentu saja, hal yang paling jelas yang dapat dilakukan untuk menjauhi resiko ini adalah dengan melakukan pembatasan emisi. Selain itu, studi ini juga mengusulkan hal lain yang dapat dilakukan seperti pemberlakuan pajak valuta internasional yang dapat digunakan untuk menghadirkan listrik bagi sekitar 1,5 milyar penduduk dunia yang sekarang tak memiliki akses atasnya.


