Pulau Buatan untuk Selamatkan Orangutan
Seorang praktisi konservasi asal Inggris, Dr. Ian Singleton merencanakan untuk membuat sejumlah pulau untuk tempat tinggal orangutan. Keempat pulau ini rencananya akan didesain mengandung unsur-unsur habitat alami orangutan seperti rumput, semak-semak dan pepohonan dan nantinya akan digunakan sebagai tempat tinggal para orangutan yang sakit atau cedera.
Dr. Singleton menyebut bahwa pihaknya telah hampir mendapatkan 20 hektar lahan untuk rencana ini. Lokasi yang ideal adalah di dekat daerah pesisir, dengan suplai air tawar yang konstan melalui sebuah kali atau sungai.
Pulau ini akan dibuat dengan cara menggali “parit” di sekitar lahan tersebut dan mengisinya dengan air, sehingga tercipta pulau-pulau buatan. Tanah hasil penggalian kemudian akan digunakan untuk membangun kontur bentang darat (landscape) di pulau-pulau tersebut.
Karena orangutan tidak bisa berenang, mereka akan enggan meninggalkan daerah pulau tersebut yang dikelilingi dengan air. Dr. Singleton sendiri berencana untuk menambah pengamanan dengan mendirikan pagar yang dialiri listrik.
Dr. Singleton telah berada di Sumatra sejak tahun 2001. Ia memimpin Orangutan Conservation Programme, yang bertujuan untuk melindungi orangutan serta mengadvokasi masyarakat lokal mengenai ancaman terhadap spesies ini melalui pusat edukasi.
Dewasa ini, tersisa hanya sekitar 6.000 orangutan di Sumatra, yang habitatnya terus tergerus oleh deforestasi dan konflik dengan manusia. Seperti dituturkan oleh Dr. Singleton,
“Misalnya, orangutan yang bernama Leuser yang matanya buta akibat tembakan senapan angin. Ia tak mungkin dibiarkan tinggal dalam kandang untuk 45 tahun ke depan.”
“Diperlukan suatu perubahan perilaku yang mendasar, atau proyek ini akan sia-sia. Kita perlu menjangkau pihak-pihak yang melakukan penebangan hutan dan menembaki orangutan. Banyak orang dari kelas menengah, termasuk polisi, yang mencuri orangutan dan memeliharanya sebagai simbol status.”
Kendati tidak berhubungan langsung dengan perubahan iklim, perjuangan sebuah spesies untuk bertahan seringkali menjadi salah satu indikator utama perubahan iklim. Dalam hal ini, populasi orangutan terdesak akibat pembukaan hutan, -sementara kita ketahui bersama bahwa deforestasi adalah salah satu biang keladi perubahan iklim.
Prakarsa ini patut disambut baik. Namun media ini menyayangkan bahwa inisiatif kreatif ini digagas oleh WNA dan bukan putra bangsa kita sendiri. Padahal, orangutan merupakan spesies asli endemik Indonesia.
KREDIT FOTO: Gambar adalah milik situs ini


