Cina Investasikan 250 Milyar Dolar dalam Teknologi Jaringan Listrik Pintar

 

Cina sering digunakan sebagai alasan oleh beberapa negara yang enggan terikat dalam komitmen reduksi emisi.  Walaupun masih dikategorikan sebagai negara berkembang, Cina dianggap sebagai negara “pengotor” terbesar, dan harus ikut mengikatkan diri dalam suatu komitmen reduksi emisi yang bersifat wajib dan mengikat.

Namun, ada hal lain yang tak dapat disangkal.  Terlepas dari statusnya sebagai negara yang mengeluarkan emisi karbon terbanyak di dunia, Cina juga mungkin adalah merupakan suatu negara yang paling banyak berinvestasi dalam pengembangan energi bersih.  Sebagian dari alasannya adalah karena bahwa pemerintahan yang berkuasa di Cina masih bukanlah merupakan demokrasi dalam arti sepenuhnya.  Ini memudahkan rezim yang berkuasa untuk mengeluarkan kebijakan yang diadopsi secara nasional.

Salah satu kebijakan Cina yang terbaru adalah ketika dalam ajang Smart Grid World Forum di Beijing bulan lalu, Cina mengumumkan rencana investasi senilai 250 milyar dolar AS dalam peningkatan infrastruktur tenaga listrik dalam lima tahun ke depan.  45 milyar di antaranya akan dikhususkan untuk pembangunan teknologi jaringan listrik pintar.

Jaringan listrik pintar adalah suatu jaringan listrik yang komponen-komponennya ditingkatkan dengan mencakup instalasi sensor, komputer dan sistem antarmuka nirkabel.  Hal ini berarti setiap bagian jaringan listrik, – kabel transmisi, trafo, kabel distribusi dan meter -, dapat menyalurkan energi listrik dengan lebih efisien kepada pengguna.  Jaringan pintar ini juga dapat memberi laporan tentang bagaimana proses penghantaran listrik berjalan, serta melakukan penyesuaian yang tepat dengan kondisi lapangan yang berubah-ubah.

Saat nanti teknologi jaringan ini jadi, ia akan memperbaiki efisiensi energi, memotong emisi karbon, dan memberikan kendali kepada pelanggan atas tagihan listrik mereka.  Pemerintah Cina juga terlihat percaya bahwa peningkatan teknologi jaringan ini juga akan mendorong inovasi teknologi dan membuka lapangan kerja baru.  Di sisi lain, ada harapan bahwa dengan memulai proses ini lebih dahulu, pemerintahan negara lain akan membeli perangkat teknologi jaringan pintar dari Cina ketika mereka mulai menerapkannya di negara masing-masing.

 

468 ad