Kebiasaan Mengemudi dan Penurunan Emisi

 

Kemacetan: Problem besar sektor transportasi

 

Melalui siaran pers-nya yang dirilis pada 5 Juli, EMBARQ mengumumkan sebuah studi berjudul “The Role of Driving in Reducing GHG Emissions and Oil Consumption: Recommendations for Federal Transportation Policy”.  Studi ini melakukan eksplorasi atas berbagai skenario yang mungkin terjadi dalam sektor transportasi AS dan bagaimana implikasinya dalam reduksi konsumsi BBM dan emisi gas rumah kaca.

“Analisis kami menunjukkan bahwa dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu, AS sangat mungkin menurunkan emisi dan konsumsi BBM secara signifikan dalam sektor transportasi,” ujar Allison Bishins, lead author studi tersebut.  “Studi menunjukkan bahwa tujuan ini dapat dicapai dengan perbaikan teknologi kendaraan, serta reduksi jarak tempuh kendaraan.  Jelas sekali bahwa pengembangan teknologi atau perubahan kebiasaan saja tak akan cukup memadai, keduanya diperlukan secara bersama.”

Kendati studi ini dibuat dan ditujukan untuk negara Amerika Serikat, kesimpulan yang dicapai sangat relevan dengan keadaan di negara-negara lain, termasuk Indonesia.  Kita semua tak bisa menggantungkan harapan hanya pada perbaikan teknologi saja, perubahan harus juga disertai dengan kebiasaan mengemudi yang dirubah.

EMBARQ adalah sebuah jaringan global yang digagas untuk menjadi katalis solusi transportasi yang ramah lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidup di kota-kota besar dunia.  EMBARQ terafiliasi dengan World Resources Institute, serta telah berkembang meliputi lima lokasi di dunia: Mexico, Brazil, India, Turki dan kawasan pegunungan Andes.

 

KREDIT FOTO : Uwe H. Martin/Greenpeace, diambil dari sini

468 ad