Perlunya Konservasi Hutan Bakau untuk Atasi Perubahan Iklim
Tiga lembaga internasional Bank Dunia, IUCN (International Union for the Conservation of Nature) dan ESA PWA menyebutkan bahwa ada sekitar 500 juta ton karbondioksida yang telah lepas ke udara dari hutan bakau di seluruh dunia dalam 100 tahun terakhir. Menurut direktur Climate Change Services ESA PWA, Stephen Crooks, penelitian menunjukkan bahwa cadangan karbon dalam hutan bakau lebih besar empat hingga lima kali lipat dibandingkan cadangan karbon pada hutan tropis.
“Untuk pertama kalinya kami mengetahui emisi gas rumah kaca secara signifikan dan secara global dari pengeringan dan degradasi lahan basah di wilayah pesisir dan bisa terjadi secara terus menerus dapat mengeluarkan karbon selama beberapa dekade,” ujar Crooks, seperti dikutip Republika.
Lembaga Pusat Riset Kehutanan Internasional (CIFOR) menyarankan agar Indonesia lebih memprioritaskan hutan bakau untuk dikonservasi sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan iklim. Peneliti senior dari CIFOR, Daniel Murdiyarso menjelaskan bahwa hasil penelitian dari CIFOR dan US Forest Service memperlihatkan hutan bakau ternyata menyimpan jauh lebih banyak karbondioksida dibandingkan hutan tropis.
“Bakau memiliki banyak sifat yang sama dengan lahan gambut, seperti penyimpanan karbon di bawah permukaan yang sangat tinggi dan menghadapi deforestasi dan degradasi besar-besaran. Bakau semestinya mendapatkan tingkat perlindungan sama seperti gambut,” tegas Daniel.
Penelitian CIFOR-US Forest Service memperlihatkan bahwa hutan bakau empat kali lebih padat menyimpan karbondioksida dibandingkan hutan tropis di daratan tinggi. Sedangkan pembukaan dan kerusakan ekosistem bakau diperkirakan 10 persen dari emisi deforestasi global, meski luas hutan mangrove hanya 0,7 persen dari total luas hutan tropis.
Gambar diambil dari sini.


