Perubahan Iklim Ancam Penguin Chinstrap
Penguin Chinstrap yang dikenal berdasarkan ciri khas berupa penanda di kepala mereka yang menyerupai topi dengan garis hitam tepat di bawah tengkuk adalah kelompok terbesar kedua di Kutub Selatan setelah Penguin Macaroni. Saat ini spesies penguin tersebut menghadapi risiko besar akibat pemanasan global.
Para ilmuwan melakukan penelitian terhadap bayi penguin di Kutub Selatan. Penelitian menunjukkan bahwa penguin muda terancam mati karena situasi semakin berat untuk mendapatkan makanan, sementara melelehnya es mengurangi populasi ikan-ikan kecil yang mereka makan. Hanya 10 persen bayi penguin yang diberi tanda oleh para peneliti kembali dalam dua tahun setelah dipelihara.
“Ini merupakan perubahan dramatis,” tegas pemimpin penelitian Wayne Trivelpiece dari Antartic Ecosystem Research Division, National Oceanic and Atmospheric Administration, seperti dikutip Kompas. “Masih ada dua sampai tiga juta pasang Penguin Chinstrap di wilayah ini, namun jumlah tersebut menurun drastis dari tujuh sampai delapan juta penguin yang terdapat dua dasawarsa lalu. Situasinya semakin memprihatinkan.”
Penelitian menunjukkan bahwa Penguin Chinstrap bertahan lebih baik pada cuaca yang hangat. Penguin Chinstrap makan dan membuat sarang mereka jauh dari salju dan es sehingga dipandang sebagai hewan yang menghindari es. Meskipun penguin tersebut jauh dari ancaman kepunahan, para ilmuwan telah mendesak International Union for the Conservation of Nature untuk menilai dan menaikkan status hewan tersebut menjadi spesies yang rentan terhadap kepunahan.
Gambar diambil dari sini.


