Benarkah Biofuel Solusi Tepat untuk Alam?
Kendaraan berbahan bakar hayati (biofuel) yang “ramah lingkungan” disinyalir menjadi bumerang bahkan mungkin ikut memperbesar perubahan iklim, demikian informasi yang dilansir ANTARA News. Nuffield Council on Bioethics menemukan bahwa tanaman yang dijadikan bahan bakar ternyata telah mendorong kenaikan harga pangan, meningkatkan penebangan hutan dan mengancam binatang.
Menurut keterangan lembaga riset itu, tanaman untuk biofuel telah menyebabkan kondisi “mirip perbudakan” di perkebunan gula di negara berkembang dan sangat mungkin telah meningkatkan emisi gas rumah kaca. Laporan itu juga menilai kebijakan biofuel Inggris “tidak etis” dan meminta adanya pedoman untuk memastikan masa depan bahan bakar “hijau” memberi lebih banyak manfaat dibanding kerugiannya.
Tujuan penggunaan biofuel adalah untuk mengurangi emisi karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil dan mencegah perubahan iklim yang dibuat manusia. Kebanyakan biofuel berasal dari jagung, tebu, minyak kelapa sawit dan minyak lobak. Namun, laporan menunjukkan bahwa gencarnya penyebarluasan biofuel justru mendatangkan bencana.
Pembabat hutan tropis untuk tanaman biofuel di Brasil, Malaysia dan Indonesia justru membuat masyarakat setempat terusir dan terancamnya kelestarian orangutan. Sedangkan di Amerika Serikat, tanaman jagung yang awalnya untuk pangan kini jadi bahan baku biofuel sehingga panen berkurang dan harga pangan naik.
Gambar diambil dari sini.


