Menyantap Serangga: Solusi Baru Pemanasan Global?

Memakan serangga, meski terdengar aneh dan menjijikkan, sesungguhnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai belahan dunia. Ulat Mopani adalah makanan yang populer di Afrika, masyarakat Jepang mengkonsumsi serangga laut, dan orang Meksiko memakan belalang.

Terkait pemanasan global yang disebabkan oleh perubahan iklim dan emisi gas rumah kaca, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB menyatakan bahwa sektor peternakan menghasilkan 9 persen emisi karbon dioksida, 37 persen emisi gas methan dan 65 persen emisi nitrat oksida.

Menanggapi hal ini, Dennis Oonincx, ahli serangga di Universitas Wageningen, Belanda melakukan penelitian dengan membandingkan lima jenis serangga dengan sapi dan babi. Oonincx mengumpulkan ulat daging, jangkrik, belalang, kumbang matahari dan kecoa Argentina, lantas menghitung tingkat pertumbuhan serta produksi gas rumah kaca dan amonia dari kelima jenis serangga itu. Setelah dibandingkan dengan data-data emisi yang dihasilkan sapi dan babi, terbukti bahwa serangga menghasilkan lebih sedikit emisi karbon dibanding hewan ternak.

Tak hanya itu, informasi yang dirilis Green Radio menyatakan bahwa kandungan nutrisi pada serangga disinyalir dapat menjadi salah satu solusi masalah pertanian. Menurut Frank Franklin, profesor dari Universitas Alabama di Birmingham, protein dari serangga bisa diproses menjadi makanan untuk penderita kekurangan nutrisi.

Gambar diambil dari sini.

468 ad