PES Sebagai Upaya Rekonsiliasi Kepentingan Bisnis dan Lingkungan

amazon

Sungai Amazon dan hutan di sekitarnya

Berapa harga suatu spesies reptil terhadap ekosistemnya?  Atau suatu tanaman perdu tertentu?  Dapatkah kita memberi label harga atas air bersih dan udara yang bebas polusi?  Atau hutan perawan, gugusan koral yang sehat, serta hutan bakau yang tumbuh lebat?  Di satu sisi, kaum environmentalis bergaris keras menolak memberi harga pada hal-hal semacam ini, karena anggapan bahwa alam memiliki arti yang tak dapat dinilai dengan uang.  Bagi kalangan bisnis, ekosistem yang tak tersentuh seringkali dianggap tak memiliki nilai, – sehingga tak dapat dimasukkan dalam kalkulasi neraca bisnis.  Seringkali, ini menempatkan dunia bisnis dan lingkungan sebagai pihak yang berseberangan.  Lantas apa yang harus dilakukan demi sinkronisasi dua dunia yang berbeda ini?  Salah satu sarananya adalah dengan mengenali dan mengaplikasikan Payment for Ecosystem Services (PES).

Sebagian besar praktisi lingkungan ( serta sekelompok pelaku bisnis ) berargumen bahwa alam yang dibiarkan tak tersentuh akan menyediakan “layanan jasa” yang menjadi dasar bagi kelancaran operasi bisnis.  Hutan perawan, – misalnya, tak hanya menyenangkan untuk dilihat, namun juga mencegah erosi tanah dan meningkatkan kualitas persediaan air .  Ini adalah “layanan” yang sangat berharga bagi suatu bisnis pemrosesan minuman di hilir sungai yang bergantung pada kontinuitas suplai air bersih.  Hutan yang sama dapat pula berfungsi sebagai habitat bagi koloni lebah yang membantu penyerbukan tanaman di lahan pertanian sekitarnya; – suatu fungsi yang vital jika Anda memiliki suatu perkebunan teh di area yang sama.  Berdasarkan paradigma ini, alam memberikan suatu layanan ekosistem dengan manfaat yang dapat diukur dengan besaran harga dan mata uang.  “Semua hal yang diberikan oleh alam kepada kita menjadi dasar dari kemakmuran manusia,” ujar Peter Kareiva, peneliti terkemuka dari The Nature Conservancy (TNC).

Sebelumnya, konsep layanan ekosistem seperti ini hanya tersebut-sebut dalam segelintir  jurnal ilmiah.  Namun kombinasi dari semakin maraknya wacana aksi pemerintah atas emisi karbon (yang sekarang bernilai sekitar USD 20 per ton di pasar Eropa), tekanan pemegang saham yang semakin peduli dengan isu lingkungan, serta meningkatnya kekhawatiran akan sumber daya alam yang terbatas; -memaksa sejumlah perusahaan besar seperti Coca-Cola untuk menyikapi kalkulasi ekologi dengan seksama seperti neraca rugi/laba mereka.  Bulan lalu, Dow Chemical melangkah lebih jauh lagi dengan mengumumkan kolaborasi lima tahun senilai USD 10 juta dengan TNC untuk melakukan penilaian harga dan manfaat ekosistem dalam setiap keputusan bisnis yang akan dibuat.  Perusahaan yang berpusat di Michigan ini akan memasukkan faktor lingkungan dalam perhitungan rugi/laba mereka.  “Sumber daya alam planet kita semakin terancam hari demi hari,” ujar Andrew Liveris, CEO Dow.  “Namun konservasi alam dapat menjadi suatu prioritas korporasi yang menguntungkan, serta menjadi sebuah strategi bisnis global yang cerdas.”

Seringkali, para praktisi lingkungan hidup dan kalangan korporasi berada di pihak yang berseberangan saat membahas tentang pelestarian lingkungan.  Namun seiring dengan wacana soal perubahan iklim yang merebak luas di dekade 1990-an, mulai disadari bahwa arti penting alam hanya dapat dipahami jika ia diberi valuasi.  Sebuah studi tahun 1997 di jurnal Nature menjadi salah satu yang pertama mencoba melakukan estimasi “harga” atas layanan ekosistem planet ini: hutan dan lautan, udara dan regulasi iklim, bahkan termasuk manfaat kultural dan rekreasional.  Studi tersebut menghasilkan perkiraan kasar sebesar USD 33 trilyun, – dua kali angka GNP global pada saat itu.

Belakangan, para peneliti yang tergabung dalam Millenium Ecosystem Assesment PBB juga telah bekerja untuk mengerucutkan perkiraan nilai atas layanan-layanan ekosistem yang spesifik.  WWF, misalnya, meneliti perkebunan kopi di Kosta Rika dan menemukan bahwa bunga-bunga yang tumbuh di sekitar hutan mengalami penyerbukan dua kali lipat dibanding mereka yang tumbuh jauh dari hutan.  Ini berarti bahwa penyerbukan oleh lebah dapat dinilai sebagai mendatangkan keuntungan tambahan senilai USD 62.000 per tahunnya, atau sebesar 7% dari pemasukan perkebunan.  Sementara pembukaan lahan hutan tersebut untuk kepentingan pakan ternak hanya akan memberikan keuntungan sebesar USD 24.000 per tahun.  “Ada banyak studi kasus serupa tentang dampak ekonomis dari konservasi alam,” ujar Taylor Ricketts, direktur konservasi WWF.  “Manusia hanya akan menghargai sesuatu yang dapat diukur nilainya.”

Dow dan TNC juga telah terlibat dalam suatu proyek serupa di Sao Paulo yang menjadi awal dari kerjasama mereka.  Di sana, sebanyak 9 juta jiwa memperoleh air minum mereka dari daerah Cantareira di hutan Brazil.  Hutan tersebut telah tergerus di sana-sini akibat pembalakan dan pertanian selama berpuluh-puluh tahun.  Deforestasi yang terjadi menurunkan kualitas air dan kehidupan liar yang tergantung kepada hutan.  Melakukan konservasi atas daerah hulu hutan adalah suatu cara yang lebih murah untuk melindungi kualitas air dibandingkan dengan membangun instalasi pemurnian air.  New York melakukan hal semacam ini di dekade 1990-an, dengan membeli dan memproteksi lebih dari 28.000 hektar luasan daerah pemasok air bersih untuk menghindari perlunya membangun instalasi pemurnian seharga USD 6 milyar.  Di Sao Paulo, Dow mendonasikan USD 1,5 juta untuk mendukung kerjasama TNC dan pemerintah daerah guna merestorasi 350 hektar hutan yang mengelilingi sediaan air di Cantareira.  Dana tersebut tak hanya dapat melindungi keberagaman hayati, menghasilkan kredit karbon, dan membuka lapangan kerja di bidang lingkungan bagi penduduk lokal; -namun juga dapat memotong endapan kotoran yang meresap ke dalam air tanah sebesar 60%.  Hal ini akan menguntungkan penduduk Sao Paulo dan perusahaan-perusahaan yang berbasis di sana, termasuk Dow.

Baik Dow maupun TNC memandang bahwa air akan menjadi fokus awal yang penting dalam kolaborasi mereka.  Sebagai suatu layanan ekosistem, air nyaris selalu menjadi bagian dari pertimbangan pasar, kendati bahwa valuasi harga atas air sering terlalu rendah dan tak merefleksikan makna sebenarnya.  Sejak 2007, sebuah instalasi produksi Dow di Terneuzen, Belanda telah mendaur ulang 9,8 juta liter air limbah per harinya untuk kepentingan operasi mereka.  Ini jauh lebih murah dan hijau dibandingkan dengan sekedar mengambil air sungai.  “Jika air bersih tak mencukupi, ekosistem menjadi terbebani, dan dapat mengakibatkan masalah produksi,” terang Neil Hawkins dari Dow.  “Memahami dampak ini dapat membantu kita untuk mengambil keputusan yang lebih baik.”

Kolaborasi Dow-TNC hanyalah salah satu berita yang menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan dan kepentingan korporasi tak harus bertentangan.  Pada 2007, Goldman Sachs merilis sebuuah laporan yang menyimpulkan bahwa perusahaan yang mementingkan kebijakan di bidang lingkungan dan sosial cenderung memiliki performa yang lebih baik di pasar saham.  Perusahaan multinasional lainnya juga telah mulai bereksperimen dengan layanan ekosistem.  Coca-Cola menginvestasikan USD 30 juta dalam program air bersih di seluruh dunia yang memulihkan sediaan air sebesar 31% dari jumlah yang mereka gunakan pada tahun 2010.  “Tadinya, kekhawatiran perusahaan-perusahaan besar soal lingkungan hanya terbatas pada soal mengecilkan resiko bisnis,” kata Glenn Prickett dari TNC.  “Sekarang, mereka mulai memandang alam sebagai suatu sumber dari nilai bisnis.”

Mungkin, ini semua terdengar masih agak kabur.  Hal ini disebabkan karena layanan ekosistem masih sedang didefinisikan sebagai sebuah konsep baku.  Layanan lain di samping air bersih, -seperti keberagaman spesies hayati-, lebih sulit untuk diberi valuasi.  Kendati demikian, kondisi bumi yang terus terperas oleh populasi yang meningkat membawa kita kepada suatu kesimpulan: perusahaan yang cerdas adalah ia yang belajar untuk menghargai layanan ekosistem, dan tak hanya mengeksploitasinya.


KREDIT:  Gambar diambil dari sini

468 ad