Ketika Tuhan Menghampiri Meksiko
“Tonight God is very close to Mexico (Hari ini Tuhan sangat dekat dengan Meksiko),” demikian pernyataan India dalam hari terakhir sidang COP16 di Cancun, Mexico, saat mayoritas negara yang hadir memberikan dukungan dan persetujuan atas rancangan kesepakatan iklim yang baru. Tak hanya itu, India juga menyebut Patricia Espinosa, Menteri Luar Negeri Meksiko sekaligus pemimpin konferensi iklim Cancun sebagai ‘dewi’ karena telah memungkinkan semuanya terjadi.
Pada saat-saat terakhir, konferensi Cancun membuahkan salah satu terobosan terbesar sepanjang lebih dari satu dekade. Terobosan ini ditandai dengan situasi-situasi yang tak terduga, antuasiasme dan luapan emosi pada 11 Desember dinihari. Tepuk tangan membahana saat nyaris seluruh delegasi dari negara-negara yang hadir di kompleks hotel Moon Palace menyetujui rancangan yang dikeluarkan.
Lebih dari 190 negara setuju untuk mengadopsi kesepakatan yang akan membukakan pintu bagi sistem baru dalam diplomasi iklim yang mengikutsertakan baik negara-negara maju maupun negara-negara berkembang. Menteri Luar Negeri Meksiko Patricia Espinosa yang memimpin jalannya negosiasi menyatakan bahwa apa yang terjadi di Cancun “menandai era baru dalam kerja sama internasional di bidang perubahan iklim”.
Setelah segala kendala dan kesulitan yang ditemui pada COP15 di Copenhagen, perundingan iklim di Cancun akhirnya membuahkan hasil positif. Untuk pertama kalinya dalam 3 tahun terakhir, 193 negara bersepakat untuk mengadopsi sebuah tindakan—memulihkan kepercayaan dunia usai kegagalan besar yang terjadi tahun sebelumnya. Banyak pihak memperingatkan bahwa kegagalan dalam konferensi Cancun akan menyebabkan dunia menyerah untuk meneruskan proses yang telah berlangsung sekian lama serta menimbulkan keraguan terhadap negosiasi multilateral secara keseluruhan, mengingat besarnya kekecewaan yang timbul pada COP15. Namun prediksi tersebut dipatahkan oleh kesigapan dan kepemimpinan yang handal oleh pemerintah Meksiko.
“Meksiko layak mendapatkan pujian karena telah berhasil menangani negosiasi yang membantu menyatukan para pemerintah, khususnya dalam isu-isu yang bersifat runcing. Mereka menciptakan atmosfir negosiasi yang inklusif dan efisien yang secara langsung menolong para negara yang terlibat memperoleh kepercayaan diri dalam proses ini,” ungkap Gordon Shepherd, kepala Global Climate Initiative dari WWF.
Kesepakatan Cancun telah menciptakan institusi yang diperlukan untuk terjadinya transfer teknologi dan pendanaan bagi negara-negara miskin. Perjanjian ini memperbarui kerangka kerja di bidang pengurangan emisi gas rumah kaca dan menciptakan sistem pendukung dalam hal teknis maupun keuangan bagi negara-negara berkembang yang menghadapi ancaman mematikan dari pemanasan global serta memberikan kompensasi bagi negara-negara yang menghentikan pembabatan hutan. Hasil perundingan ini merupakan yang paling signifikan sejak Protokol Kyoto disetujui 13 tahun lalu. Untuk pertama kalinya dunia memiliki instrumen legal yang menyertakan baik negara maju maupun negara berkembang untuk mengambil tindakan penanggulangan perubahan iklim yang transparan. “Ini jauh melebihi harapan kami,” ujar Chris Huhne, Sekretaris Iklim. “Ini merupakan momen yang sangat penting, titik balik dalam negosiasi perubahan iklim internasional jangka panjang.”
Bolivia, satu-satunya negara yang menolak rancangan kesepakatan berpendapat bahwa rancangan tersebut terlalu lemah dan akan membahayakan Bumi. Pablo Solón, ketua tim negosiasi Bolivia berkata bahwa rancangan pengurangan emisi tersebut akan menyebabkan temperatur Bumi meningkat sebanyak 4 persen pada abad mendatang yang akan mengakibatkan bencana besar bagi negara-negara miskin yang rentan perubahan iklim. Namun ketidaksetujuan ini tidak menghambat penerimaan oleh negara-negara lain. Keputusan yang diambil dalam perundingan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa biasanya dibuat berdasarkan konsensus, namun Espinosa berkata bahwa konsensus tidak menjadikan sebuah negara berhak menjungkirkan keputusan yang telah disetujui semua pihak lain.
Negara demi negara—dari negara kepulauan kecil seperti Maldives, negara-negara Timur Tengah hingga negara berkembang dengan pertumbuhan pesat seperti India—menyatakan dukungan terhadap naskah rancangan kesepakatan tersebut. Cina dan Amerika Serikat pun tak luput menyatakan dukungan, padahal, hingga berminggu-minggu sebelumnya, kedua negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia ini saling berusaha menjatuhkan kesalahan pada satu sama lain. Para delegasi dari negara-negara kepulauan dan negara-negara berkembang dengan antusias menyambut rancangan yang akan membuka kucuran donasi senilai miliaran dolar untuk membantu mereka mengadopsi sistem energi bersih dan beradaptasi dengan dampak yang tak terelakkan dari perubahan iklim, seperti kekeringan, kelangkaan makanan dan kenaikan permukaan laut.
Tepuk tangan meriah yang diperoleh Espinosa usai sidang hari terakhir merupakan penghargaan yang diberikan para negosiator atas keterbukaan dan penanganan handal pemerintah Meksiko dalam menjalankan konferensi bertaraf internasional ini. Di bawah kepemimpinan Espinosa, negara-negara yang terlibat berhasil mengeluarkan rancangan kesepakatan yang jauh melebihi perkiraan setiap orang.
Christiana Figueres, ketua negosiator Perserikatan Bangsa-Bangsa berkata bahwa hasil perundingan telah ‘menyalakan kembali’ harapan dalam negosiasi iklim internasional. Lanjutnya,
“Negara-negara telah menunjukkan bahwa mereka dapat bekerjasama di bawah satu atap untuk meraih sebuah konsensus. Mereka telah menunjukkan bahwa konsensus dalam proses yang transparan dan inklusif dapat menciptakan kesempatan bagi semua pihak yang terlibat. Ini bukanlah akhir, melainkan permulaan.”
Dini hari 11 Desember 2010 barangkali memang saat mata Tuhan tertuju ke Cancun, Meksiko.


