EKSLUSIF- Figueres: Percepat Pencarian Persamaan Posisi dalam Pertemuan Tianjin

Christiana Figueres
Tianjin, 4 Oktober 2010 - Sekretaris Eksekutif UNFCCC Christiana Figueres menyerukan kepada pemerintahan negara-negara yang bertemu di Tianjin, Cina, untuk mempercepat pencarian persamaan posisi demi mencapai aksi yang nyata mengenai perubahan iklim. Dengan sisa waktu kurang dari dua bulan menjelang Konferensi Perubahan Iklim di Cancun, Meksiko, Figueres menyebutkan bahwa hasil konkrit di bulan Desember sangat dibutuhkan untuk mengembalikan kepercayaan kepada kemampuan para pihak untuk meneruskan negosiasi.
Perundingan Perubahan Iklim di Tianjin dihadiri oleh sekitar 3.000 partisipan dari 176 negara yang terdiri dari delegasi pemerintahan, perwakilan dunia usaha, serta organisasi riset dan lingkungan. Dalam perundingan ini, para delegasi akan mendiskusikan teks negosiasi di bawah Ad Hoc Working Group on Long Term Cooperative Action (AWG-LCA). Kelompok kerja ini ditugasi untuk menghasilkan suatu pendekatan jangka panjang atas tantangan perubahan iklim.
“Para pemerintah negara telah memulihkan kepercayaan mereka atas proses negosiasi, namun mereka harus memastikan bahwa dunia dapat percaya akan suatu masa depan yang penuh dengan komitmen pemerintah yang terus menguat untuk memerangi perubahan iklim,” ujar Figueres. “Para pemerintah harus menyepakati apa yang dapat dilakukan di Cancun, serta bagaimana hal itu dapat dicapai dan seimbang secara politis.” Ia juga mengatakan bahwa ada suatu konvergensi yang terus berkembang dalam negosiasi agar Cancun dapat menghasilkan suatu “paket keputusan yang seimbang” yang mendefinisikan pilar-pilar aksi perubahan iklim.
Paket keputusan yang seimbang secara politis tersebut dapat mencakup suatu kerangka kerja global untuk membantu negara-negara dalam proses adaptasi, peluncuran suatu mekanisme baru untuk transfer teknologi yang lebih cepat ke negara berkembang, keputusan untuk membentuk badan baru untuk mengawasi dana jangka panjang untuk negara berkembang, serta suatu keputusan tentang aksi awal skala besar untuk melindungi hutan dan penghidupan masyarakat adatnya.
Lanjutnya,
“Kesepakatan yang dapat dicapai di Cancun bisa jadi tidak sangat detail, tapi sebagai suatu paket mereka harus bersifat komprehensif dalam ruang lingkup dan mampu untuk membuahkan hasil nyata dalam jangka pendek, serta menyiapkan komitmen jangka panjang untuk perubahan iklim secara efektif dan adil.”
Figueres memahami bahwa ada banyak area ketidaksepakatan, terutama mengenai kapan dan bagaimana menyepakati suatu pembagian tanggung jawab yang adil akan aksi perubahan iklim di masa kini dan akan datang, tapi tetap menegaskan bahwa hal tersebut bukan tidak bisa diatasi. Sebagai contoh, para pemerintah dapat memformalisasikan sejumlah janji yang mereka utarakan untuk memotong dan membatasi emisi, bersama dengan mengklarifikasi kelanjutan Protokol Kyoto.
Figueres juga menyebut bahwa banjir di Pakistan tahun ini, kebakaran Russia, serta bencana tanah longsor di Cina harus dipandang sebagai alarm mengenai iklim yang berubah secara ekstrem. Tukasnya lagi,
“Intinya adalah bahwa tak ada pihak yang diuntungkan dengan menunda aksi. Sebaliknya, pada akhirnya semua pihak memiliki kepentingan untuk mempercepat aksi demi meminimalisir dampak negatif perubahan iklim.”
KREDIT FOTO: AFP – diambil dari sini

