Kelapa Sawit di Lahan Gambut Tak Lagi Didukung CDM

OilPalmPlantation3_small

Perkebunan yang didirikan di lahan gambut tidak akan lagi mendapatkan dukungan dari Clean Development Mechanism (CDM), yakni sebuah kerangka bagi negara-negara industri untuk mengurangi emisi mereka melalui proyek-proyek di negara berkembang, demikian yang dilaporkan oleh Wetlands International.

Keputusan ini akan membatasi gerak perkebunan yang didirikan di atas lahan gambut dari mendapatkan kredit karbon yang dapat dijual ke negara-negara industri untuk ‘mengimbangi’ emisi yang mereka hasilkan. Yang mengundang keprihatinan di sini adalah bahwa di bawah CDM, pembiayaan karbon digunakan untuk mensubsidi konversi lahan gambut padat karbon menjadi perkebunan kelapa sawit—sebuah proses yang menghasilkan emisi gas rumah kaca—sehingga melemahkan potensi simpanan karbon yang diperoleh dari penggunaan biodiesel berbasis minyak kelapa sawit.

Penelitian menemukan bahwa produksi satu ton minyak kelapa sawit di lahan gambut menghasilkan 15 hingga 70 ton karbondioksida dalam kurun waktu 25 tahun sebagai dampak dari konversi hutan, dekomposisi gambut dan emisi yang disebabkan oleh kebakaran yang berkaitan dengan penggusuran lahan. Dengan kata lain, biodiesel yang diproduksi dalam kondisi seperti itu memiliki dampak yang lebih dahsyat terhadap lingkungan dibandingkan bahan bakar minyak konvensional.

Menanggapi hal ini, para aktivis lingkungan mendesak diberlakukannya moratorium atas konversi lahan gambut.

Gambar diambil dari sini.

468 ad