Atap Berwarna Cerah Dapat Kurangi Emisi Karbon
Atap dan trotoar berwarna terang yang digunakan di kota-kota di seluruh dunia dapat berfungsi untuk mengimbangi emisi gas rumah kaca dan mencegah pemanasan global, demikian kesimpulan dari sebuah penelitian yang dikutip kantor berita Xinhua. Berkat refleksifitas yang lebih tinggi, atap berwarna cerah tidak hanya membuat udara di dalam kota menjadi sejuk, namun juga mendinginkan temperatur global dan mengurangi panas yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca.
Untuk mengevaluasi pengaruh dari atap dan trotoar berwarna terang, para peneliti menggunakan model permukaan tanah secara global dari NASA Goddard Space Flight Centre yang mengandung informasi regional dalam variabel seperti topografi, penguapan, radiasi dan suhu, serta awan.
Mereka menemukan bahwa meningkatkan refleksifitas bahan baku atap dan trotoar di kota-kota yang berpopulasi lebih dari satu juta orang akan menghasilkan pengimbangan emisi karbon sebesar 57 gigaton, yang hampir setara dengan dua kali lipat emisi karbon di seluruh dunia pada tahun 2006, yakni 28 gigaton. “Hal ini dapat menunda pemanasan global yang akan terjadi apabila emisi karbondioksida tidak segera dikurangi,” jelas Surabi Menon, staf ilmuwan di Berkeley Lab.
Atap dan trotoar menutupi 50 hingga 65% area urban. Karena atap dan trotoar berwarna gelap menyerap begitu banyak panas, mereka menciptakan apa yang disebut efek pulau panas perkotaan, di mana sebuah kota secara signifikan menjadi lebih hangat dibandingkan area-area lain yang mengelilinginya. Karena atap berwarna terang merefleksikan jauh lebih banyak panas matahari dibandingkan atap berwarna gelap, gedung-gedung dengan atap cerah menjadi lebih sejuk. Gedung yang sejuk tidak membutuhkan penggunaan pendingin ruangan dalam jumlah besar sehingga penghematan energi dapat dilakukan.
—–
Gambar diambil dari: http://brunetteexteriors.com/images/products/Roofs.jpg


