Editorial: Cina Salip AS Sebagai Pengguna Energi Terbesar Dunia
Ada alasan mengapa Amerika terlihat enggan mengikatkan diri dalam perjanjian penurunan emisi secara legal. Salah satunya adalah karena mereka menginginkan Cina untuk turut berkomitmen dalam masalah penurunan emisi tersebut. Sebaliknya, Cina mengedepankan argumen yang tak kalah masuk akal tentang posisinya sebagai negara berkembang yang masih perlu melakukan pembangunan untuk mengejar ketertinggalannya.
Terlepas dari situasi negosiasi tersebut, pertanyaannya adalah: mengapa AS menganggap penting agar Cina ikut menurunkan emisi mereka? Salah satu jawabannya adalah bahwa Cina kini menjadi negara pengkonsumsi energi terbesar di dunia, seperti dalam laporan yang dilansir oleh International Energy Agency pada hari Senin yang lalu.
Financial Times menyebut, Cina mengambil alih posisi ini lebih cepat dari yang diperkirakan karena pada dekade yang lalu, AS melakukan jauh lebih banyak usaha-usaha efisiensi energi yang efektif ketimbang Cina. Di sisi lain, jika diambil rataan per kapita, AS masih menggunakan energi lebih banyak dari Cina, serta kalah efisien dari negara-negara Eropa.
Salah satu peneliti utama IEA, Fatih Birol, mengatakan bahwa pada tahun 2000 AS mengkonsumsi energi dua kali lebih banyak dari Cina, sementara sekarang Cina melebihi AS. Ia juga mencatat bahwa AS telah berhasil meningkatkan efisiensi penggunaan energi dalam tingkat 2,5% per tahunnya pada periode tersebut, dibandingkan dengan Cina yang hanya mencapai 1,7%.
Dalam tahun 2009, Cina mengkonsumsi jumlah energi yang setara dengan 2.252 ton minyak bumi, yang didapat dari sumber-sumber campuran seperti batubara, minyak, nuklir, gas alam dan hidro.
Lantas, apa implikasi dari fakta ini? Pertama, hal ini akan membuat Beijing semakin berpengaruh dalam percaturan pasar energi global, termasuk dalam hal penentuan harga dan penggunaannya. Situasi ekonomi global bukanlah domain media ini, sehingga tak akan dibahas di sini.
Kedua, fakta ini berpotensi untuk menambah pelik komplikasi negosiasi perubahan iklim di dunia. Namun penting untuk diingat, “berpotensi” bukanlah berarti “pasti”. Para negosiator perubahan iklim perlu sama-sama mengawal agar status Cina yang baru ini tidak membuat negosiasi berputar tanpa kemajuan yang jelas. Karena jika ditarik ke hakekat yang paling dasar, perubahan iklim adalah permasalahan global yang hanya bisa dipecahkan secara bersama-sama, dengan mengesampingkan perbedaan-perbedaan non-subtansial yang ada.
- Gambar diambil dari sini

