Kota Berpopulasi Padat Memanas Lebih Cepat
Sebuah penelitian mengemukakan bahwa pemanasan global telah menyebabkan jumlah hari yang sangat panas mengalami peningkatan di seluruh dunia, namun kota-kota yang populasinya membengkak mengalami akibat yang lebih parah dibandingkan kota-kota lain yang berpenduduk padat. Penemuan ini merupakan hal yang penting bagi para perencana kota, terutama karena gelombang panas telah membunuh lebih banyak warga Amerika Serikat dibandingkan bencana alam lainnya, dan jumlah hari-hari yang panas diperkirakan akan bertambah seiring meningkatnya perubahan iklim.
Penelitian tersebut menemukan bahwa di kota-kota yang populasinya membengkak, jumlah hari yang sangat panas setiap tahunnya meningkat menjadi 14,8 hari selama 5 dekade terakhir. Bandingkan dengan peningkatan yang dialami oleh daerah-daerah berpenduduk padat, yaitu 5,6 hari. Contoh kota dengan populasi membuncah adalah Atlanta, Tampa dan Grand Rapids, sementara Chicago, Boston dan Baltimore merupakan contoh dari area urban padat penduduk.
“Penemuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim meningkat lebih cepat di kota-kota berpopulasi padat ketimbang daerah lainnya,” ujar Brian Stone dari Georgia Tech yang memimpin penelitian tersebut.
Gelombang panas yang terjadi pada tahun 1995 di Chicago membunuh 500 orang dalam 5 hari, sementara gelombang panas yang terjadi pada tahun 2003 di Eropa diperkirakan membunuh puluhan ribu orang dalam beberapa bulan. “Karena udara panas membunuh lebih banyak orang setiap tahun ketimbang peristiwa alam lainnya, warga yang tinggal di kota-kota berpopulasi padat menjadi lebih rentan terhadap ancaman kesehatan yang ditimbulkan perubahan iklim,” tutur Brian.


