Teknologi Mitigasi
Teknologi merupakan faktor kunci dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Penerapan teknologi disertai kebijakan dan tindakan yang mendukung penghematan dan efisiensi energi diharapkan dapat mengubah kecenderungan kenaikan emisi GRK di masa datang.
Terdapat banyak sekali jenis teknologi yang dapat dikategorikan sebagai teknologi mitigasi GRK, diantaranya teknologi pembangkit listrik tenaga terbarukan seperti panas bumi, surya, angin, biomassa, juga teknologi efisiensi energi seperti lampu hemat energi (CFL/LED) dan lain sebagainya. Teknologi mitigasi tidaklah selalu mahal, bahkan banyak diantaranya justru menghasilkan penghematan selama masa penggunaan. Teknologi efisiensi energi seperti perbaikan insulasi pada bangunan dan lampu hemat energi, juga kendaraan dengan bahan bakar efisien memiliki biaya penurunan emisi negatif. Artinya, biaya investasi awal lebih kecil dibanding dengan penghematan ongkos listrik atau bahan bakar. Adapula teknologi dengan biaya yang masih cukup mahal seperti penangkapan dan sekuestrasi karbon (CCS) dan biodiesel (di atas 60 Euro per ton karbon dioksida yang dihindarkan).
Saat ini teknologi mitigasi GRK dikuasai oleh segelintir Negara maju seperti Amerika Serikat, Negara-negara Eropa, Jepang dan Australia. Negara maju yang telah berinvestasi mulai dari fase riset dan pengembangan, demonstrasi, komersialisasi dan penerapan tentu mengharapkan perlindungan hokum terhadap hasil karyanya. Hak kekayaan intelektual (HAKI) seperti paten, copyright dan royalti membuat teknologi mitigasi GRK menjadi mahal dan terkadang tidak terjangkau untuk sebagian Negara berkembang dan Negara dengan ekonomi dalam transisi. Hal ini memicu perdebatan di negosiasi Perubahan Iklim internasional, di mana sekelompok negera berkembang dan transisi menginginkan kelonggaran dalam hak kekayaan intelektual supaya harga teknologi bisa ditekan. Sebaliknya kelompok Negara maju terus melindungi penemuan-penemuannya yang sebagian juga dihasilkan oleh sektor swasta sehingga pemerintah tidak dapat begitu saja meminta mereka untuk menurunkan harga.
Sesungguhnya HAKI bukan merupakan hambatan teknologi yang sangat esensial, mengingat semakin banyaknya pemasok teknologi yang berkompetisi dengan fair sehingga menguntungkan konsumen. Hanya saja, untuk Negara berkembang seperti Indonesia, sudah selayaknya Indonesia dapat mengembangkan teknologi sendiri tanpa terus menerus tergantung pada pihak luar. Beberapa perusahaan lokal sudah dapat menghasilkan karya konstruksi pembangkit panas bumi skala besar dengan sesedikit mungkin kandungan teknologi impor.
Untuk mengatasi masalah kesenjangan teknologi, telah dibentuk fora kerjasama dan promosi teknologi internasional seperti Carbon Sequestration Leadership Forum, Renewable Energy and Energy Efficiency Partnership, Asia-Pacific Partnership on Clean Development and Climate dan lain sebagainya.
Berbagai proposal telah diajukan oleh berbagai Pihak pada negosiasi internasional Perubahan Iklim. Dalam hal HAKI, proposal mengenai compulsory licensing, insentif untuk teknologi transfer, pembelian paten bersama telah dikemukakan dan masih dinegosiasikan para Pihak. Kemudian diusulkan pula “inisiatif kebijakan baru” untuk diterapkan di tingkat internasional yang meliputi pendekatan pengelompokan teknologi berbasis sektoral dan pengembangan standar dan efisiensi teknologi. Selain itu isu yang juga hangat diperdebatkan adalah mekanisme pembiayaan baru. Terdapat usulan untuk membentuk Dana Multilateral (public funding) untuk membeli lisensi untuk mendukung difusi teknologi dan memberikan insentif finansial untuk mendukung alih teknologi. Adapula usulan lain untuk membentuk inisiatif modal ventura dari swasta untuk tujuan yang sama.
Sama halnya dengan penerapan teknologi secara umum, teknologi mitigasi GRK juga mengalami hambatan klasik seperti keterbatasan informasi, pembiayaan, kapasitas untuk menggunakan teknologi tertentu, peraturan yang tidak mendukung, kesalahan kebijakan dan distorsi pasar (seperti contohnya subsidi bahan bakar fosil telah mengakibatkan teknologi energi terbarukan menjadi tidak kompetitif).
Terkadang, hambatan penerapan sebuah teknologi selain biaya yang masih mahal untuk teknologi baru bersifat spesifik untuk daerah tertentu. Kurangnya tenaga kerja ahli, kapasitas untuk melakukan perawatan dan perbedaan budaya misalnya, dapat menjadi hambatan untuk teknologi tertentu.

0 Comments
Trackbacks/Pingbacks