Lahan Gambut
Gambut adalah material organik (mati) yang terbentuk dari bahan-bahan organik, seperti dedaunan, batang dan cabang serta akar tumbuhan, yang terakumulasi dalam kondisi lingkungan yang tergenang air, sangat sedikit oksigen dan keasaman tinggi serta terbentuk di sutau lokasi dalam jangka waktu geologis yang lama. Gambut tersusun berlapis membentuk susunan hingga ketebalan belasan meter. Wilayah yang terdiri dari tanah gambut disebut sebagai lahan gambut, berupa berbagai tipe ekosistem, mulai dari hutan hujan hingga wilayah tundra yang tidak memiliki tegakan tumbuhan.
Lahan gambut ditemukan hampir di semua negara . Luas lahan gambut dunia lebih dari 4 juta km2 atau 3% dari luas permukaan bumi dan mewakili lebih dari setengah wilayah lahan basah global. Kawasan gambut secara alamai bisa berbentuk hutan atau terbuka yang ditumbuhi dengan paku-pakuan atau perdu. Contoh lahan gambut berhutan alami adalah hutan gambut Alder di Eropa dan hutan rawa gambut tropis basah dataran rendah di Asia Tenggara. Lahan gambut yang secara alami terbuka terdapat di wilayah dingin Rusia dan Kanada, kawasan Everglades di Amerika Utara dan lahan gambut pegunungan tinggi (Paramos) di pegunungan Andes dan Himalaya.
Kawasan lahan gambut terluas terdapat di wilayah tundra dingin bagian utara Rusia dan Kanada: lahan gambut boreal. Lahan gambut tropik tersebar luas di seluruh dunia, sebagian besar terdapat di Asia Tenggara dan sebagian kecil terdapat di Amerika Latin, Afrika dan Karibea. Lahan gambut di Asia Tenggara mencakup sekitar 60% dari total wilayah lahan gambut tropis dan menyimpan lebih dari 85% karbon lahan gambut tropis.
Luas gambut di Asia Tenggara adalah sekitar 27 juta hektar atau semitar 12% dari luas keseluruhan kawasan Asia Tenggara . Berdasarkan survey dan perhitungan dari Wahyu et al (2005), diperkirakan luas lahan gambut di Indonesia adalah sekitar 20,6 juta hektar. Luas tersebut berarti sekitar 50% luas gambut tropika atau sekitar 10,8% luas daratan Indonesia. Sebagian besar lahan gambut terdapat di Papua, Sumatera, dan Kalimantan. Ketebalan gambut di Indonesia dipetkirakan rata-rata 3-5 meter di Indonesia bagian barat, sementara Indonesia bagain timur mencapai 1-2 meter.
Lahan gambut secara global menyimpan setidaknya 550 Gigaton karbon, setara dengan seluruh biomas teresterial lainnya (hutan, rerumputan, perdu dan lainnya) dan dua kali lipat seluruh karbon yang disimpan di hutan secara global.
Di Asia Tenggara, hampir seluruh gambut dataran rendah berasal dari vegetasi hutan yang memiliki kayu dan dengan demikian kaya akan kandungan karbon. Beberapa peneliti menyebutkan nilai kandungannya sekitar 60 kgC/m3. Berdasarkan asumsi tersebut serta perkiraan luas dan ketebalannya, lahan gambut Asia Tenggara diperkirakan menyimpan sekitar 42.000 Mt Karbon. Jumlah tersebut sebagian kecil saja dari karbon yang tersimpan di lahan gambut dunia (550 Gt).
Lahan gambut di Asia Tenggara memiliki kepentingan khusus untuk kelangsungan hidup berbagai satwa, seperti Orang Utan Pongo pygmaeus, Harimau Sumatera Elephas maximus sumatrensis, Badak Sumatera Dicerorhinus sumatrensis serta jenis-jenis lain yang sudah terancam punah secara global , seperti Mentok rimba Ciarina scutulata dan Buaya Senyulong Tomistoma schlegelli yang memiliki populasi kecil dan terbatas pada ekosistem hutan rawa gambut. Hutan rawa gambut juga merupakan tempat hidup penting bagi berbagai jenis tumbuhan. Penelitian menunjukkan tidak kurang dari 300 jenis tumbuhan teridentifikasi di Sumatera. Beberap diantaranya juga diketahui memiliki nilai ekonomi tinggi, misalnya Ramin Gonystylus bancanus, Jelutung Dyera lowii, Meranti Shorea sp. Dan Geronggang Cratoxylum glaucum. Di Taman Nasional Berbak Jambi yang merupakan salah satu habitat hutan rawa gambut alami yang masih tersisa ditemukan tidak kurang dari 260 jenis tumbuhan.
Lahan gambut juga memberikan mata pencaharian bagi penduduk setempat dalam bentuk perikanan serta produk non-kayu lainnya terutama madu, rotan dan tumbuhan obat. Akibat gangguan terhadap lahan gambut di Asia Tenggara tidak saja pada fungsinya sebegai pengendali banjir, penyimpan karbon dan keanekaragaman hayati di wilayah ini saja, tetapi berpengaruh global akibat emisi karbon dioksida dalam jumlah besar.
Hampir 90% hutan rawa gambut di Asia Tenggara berada dalam ancaman drainase, konversi dan pembalakan. Antara tahun 1985 dan 2005,lahan gambut dibalak hingga rata-rata 1,3% pertahun; dengan catatan tertinggi di Kalimantan Timur (2,8%) dan terendah di Papua (0,5%). Ini lebih tinggi dibandingkan pada tipe hutan lainnya.
Sejauh ini diperkirakan 45% areal hutan gambut di Asia Tenggara telah terpengaruh kegiatan pembangunan skala besar, drainase, deforestasi dan pembalakan . Sebanyak 45% lainnya terpengaruh oleh kegiatan pembalakan selektif dan drainase. Jutaaan hektar diantaranya telah terbakar hebat. Ada beberapa luasan diantaranya yang masih berada dalam kondisi yang relatif masih baik (kurang dari10%), tetapi meskipun demikian , hanya 5% yang sudah masuk dalam kawasan hutan lindung dan itupun masih tidak luput dari ancaman pembalakan liar serta perambahan.
Dari seluruh lusaan lahan gambut, 23% diantaranya berada di tangan para pemegang konsesi(sawit, kayu) baik digunakan maupun tidak. Areal tersebut seringkali sudah sangat terdegradasi, tetapi sulit untuk restorasi tanpa adanya kerjasama dengan para pemegang konsesi.


0 Komentar
Trackbacks/Pingbacks