Transportasi
Transportasi adalah sektor yang berperan penting dalam pembangunan, dimana dengan semakin cepatnya pergerakan orang dan barang maka siklus perdagangan barang dan jasa juga akan semakin efisien sehingga memicu pertumbuhan ekonomi. Perkembangan teknologi transportasi termasuk transportasi udara (penerbangan), transportasi darat dan laut telah cukup pesat di beberapa dekade terakhir. Kehidupan manusia pun memasuki peradaban baru di mana jarak yang jauh dapat ditempuh dengan waktu yang semakin singkat.
Sayangnya, teknologi transportasi yang dikembangkan selama ini sangat tergantung pada bahan bakar fosil. Hanya sejak beberapa tahun belakangan, saat kesadaran akan semakin menipisnya ketersediaan bahan bakar fosil dan kesadaran lingkungan mulai tumbuh, beberapa produsen otomotif mulai melakukan penelitian dan pengembangan dan produksi produk-produk ramah lingkungan.
Jakarta mengalami masalah transportasi yang sangat akut, yaitu kemacetan yang tidak berkesudahan. Sembilan puluh delapan persen dari 5,7 juta kendaraan yang berseliweran di Jakarta adalah kendaraan pribadi. Jumlah kendaraan baru terus bertambah dengan pertumbuhan rata-rata 9 persen per tahun. Menurut Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya seperti yang dilansir Kompas, Agustus 2008, dalam lima tahun terakhir di Jakarta setiap hari bertambah 1.127 kendaraan baru yang terdiri dari 236 mobil dan 891 motor. Jika digabung dengan Depok, Tangerang dan Bekasi jumlahnya menjadi 2.027 kendaraan, 320 mobil dan 1.707 motor. Sementara panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 km.
Menurut studi DNPI dan McKinsey (2009) yang dilakukan di 6 sektor (Kehutanan dan Gambut, Listrik, Transportasi, Pertanian, Semen dan Efisiensi Energi Bangunan), transportasi menyumbang sekitar 3,14% dari total emisi GRK pada tahun 2005. Menurut studi tersebut, emisi dari sektor transportasi di Indonesia pada tahun 2005 mencapai sekitar 69 juta ton CO2. Saat ini kepemilikan kendaraan pribadi dan komersil cenderung meningkat dengan kuat. Bila pertumbuhan pertambahan kendaraan bermotor di Indonesia tetap seperti sekarang, maka diprediksikan pada tahun 2020 emisi akan naik menjadi 254 juta ton CO2 dan pada tahun 2030 emisi gas rumah kaca dari sektor ini akan meningkat 7 kali lipat menjadi 502 juta ton CO2. Prediksi ini didasarkan juga dengan naiknya jumlah pendapatan pribadi menjadi 3 kali lipat dalam 20 tahun mendatang, menyebabkan penetrasi kendaraan pribadi diperkirakan juga akan meningkat menjadi 3 kali lipat dari 115 kendaraan per 1000 orang (sekarang) menjadi 312 kendaraan per 1000 orang (tahun 2030).
Semakin tingginya angka produk domestik bruto (PDB) Indonesia di masa mendatang berarti semakin tinggi pula jumlah kendaraan yang dibutuhkan untuk mengangkut makin banyaknya barang. Hal ini menyebabkan bertumbuhnya jumlah kendaraan komersil dari 5% (sekarang) menjadi 15% dari seluruh populasi kendaraan (tahun 2030). Jika diasumsikan kendaraan yang dipakai adalah kendaraan jenis berat dengan konsumsi bahan bakar yang tidak terlalu efisien, maka emisi GRK dari kendaraan komersil akan meningkat dari 10% (sekarang) menjadi 20% (tahun 2030).
Menurut TNA Sektor Transportasi (2009), emisi GRK yang paling besar dihasilkan dari kendaraan pribadi/ mobil (36%), diikuti oleh kendaraan komersial/ truk (33%), kendaraan roda dua/ motor (19%) dan bis kota (12%). Dari sini dapat disimpulkan bahwa penggunaan kendaraan pribadi yang tidak dibatasi akan mengakibatkan semakin tingginya emisi GRK yang dihasilkan. Pilihan moda transportasi menjadi semakin penting untuk diatur kebijakannya. Kebijakan yang berpihak pada penggunaan kendaraan umum dan moda transportasi tidak bermotor (seperti sepeda dan pejalan kaki) diharapkan dapat mengurangi emisi GRK dari sektor transportasi.
Dari segi konsumsi bahan bakar, transportasi adalah sektor yang paling tinggi konsumsi bahan bakarnya di Indonesia. Pada tahun 2005, konsumsi energi primer dari sektor ini mencapai sekitar 33,254 juta kiloliter atau 48% dari total konsumsi energi primer di Indonesia.
Dalam Indonesia Energy Outlook 2008 (2009), konsumsi energi final Indonesia diperkirakan tumbuh dengan laju sekitar 5,94% per tahun yang didominasi oleh sektor industri (50%), diikuti trasnportasi (27%), sektor rumah tangga (12%), sektor pertanian, konstruksi dan pertambangan (6%) dan sektor komersial (5%). Sementara itu, konsumsi energi final Indonesia ini didominasi oleh konsumsi BBM yaitu 44% dan hanya sebagian kecil saja dalam bentuk energi terbarukan. Dapat dikatakan seluruh kendaraan bermotor di Indonesia menggunakan BBM.
Teknologi, sistem dan sarana alternatif yang dapat dikembangkan dan diterapkan di sektor transportasi untuk mengurangi emisi GRK sebenarnya cukup banyak. Diantaranya termasuk perbaikan efisiensi dan keekonomian bahan bakar pada mesin kendaraan berbahan bakar fosil, kendaraan listrik dan kendaraan hibrid serta penggunaan biodiesel. Walaupun demikian, teknologi tinggi seperti kendaraan listrik dan hibrid saat ini masih terbatas penggunaannya di Negara berkembang termasuk Indonesia. Penggunaan kendaraan ini dapat menimbulkan pertanyaan dan masalah baru, sebab sumber listrik yang digunakan untuk menjalankan kendaraan ini harus dipastikan berasal dari sumber terbarukan. Jika tidak, hal ini berarti sekedar pemindahan emisi dari pembangkit menjadi emisi dari transportasi. Selain itu, usaha mitigasi di sektor transportasi tidak dapat semata-mata bergantung pada penggunaan teknologi. Hal utama yang penting dan harus terlebih dahulu dilakukan adalah revolusi kebijakan infrastruktur yang saat ini sangat berpihak pada kendaraan bermotor dan pribadi, dibuktikan dengan semakin banyaknya jalan tol yang dibangun, diganti dengan kebijakan yang berpihak terhadap penggunaan kendaraan umum dan kendaraan tak bermotor. Kebijakan tata guna lahan juga perlu diubah besar-besaran, sehingga tidak terjadi carut marut perkotaan (urban sprawl) yang membuat mobilisasi masif orang dan barang ke dan di dalam kota besar setiap harinya. Masih banyak moda transportasi umum yang perlu dikembangkan terutama di kota-kota besar di Indonesia seperti kereta api listrik, kereta bawah tanah (subway) dan kereta gantung (monorail) yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sehingga pada akhirnya dapat mengurangi penggunaan bahan bakar dan emisi yang dihasilkan.
Secara umum, hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi adalah sebagai berikut:
- Perbaikan efisiensi bahan bakar pada kendaraan berbahan bakar fosil. Hal ini dapat mengurangi konsumsi bahan bakar sekaligus emisi GRK per kilometer. Kendaraan baru memiliki efisiensi yang lebih tinggi. Karena itu kebijakan pembatasan umur kendaraan dapat diterapkan untuk mengurangi emisi.
- Kendaraan canggih yang memiliki emisi kecil atau nol. Termasuk dalam jenis ini adalah kendaraan hibrid, kendaraan berbahan bakar sel/ hidrogen dan kendaraan listrik.
- Perubahan bahan kendaraan. Kendaraan dengan material yang lebih ringan 10% dapat memperbaiki keekonomian bahan bakar (konsumsi bahan bakar per jarak tempuh) sekitar 4 hingga 8% lebih efisien. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah mengganti bahan menjadi baja berkekuatan tinggi (HSS), aluminium, magnesium dan plastik dengan konsep desain dan teknologi pembentukan yang lebih maju.
- Perbaikan aerodinamika. Keaerodinamisan sebuah kendaraan sangat menentukan performa mesin hingga dapat bergerak dengan kecepatan lebih tinggi. Semakin bagus aerodinamika sebuah kendaraan, maka tenaga yang dibutuhkan akan semakin sedikit sehingga konsumsi bahan bakar juga menurun.
- Pemasangan peralatan pemantau kecepatan (economoters/ cruise control). Penggunaan econometer untuk menampilkan kecepatan, konsumsi bahan bakar (liter/ jam), total jarak tempuh, total konsumsi bahan bakar dan faktor efisiensi diharapkan dapat mengontrol perilaku pengendara sehingga lebih memperhatikan cara mengemudi dengan baik untuk menghemat konsumsi bahan bakar dan menurunkan emisi.
- Substitusi bensin dan diesel dengan bahan bakar beremisi rendah. Bensin dan diesel dapat digantikan dengan bensin tanpa timbal dan biodiesel untuk mengurangi emisi. Penggunaan biodiesel juga memiliki kelemahan apabila dihasilkan dari bahan pangan atau bahan yang ditanam di lahan bekas hutan sehingga menimbulkan emisi dari deforestasi (Lihat bagian biofuel).
- Perubahan moda transportasi. Penggunaan kendaraan umum sudah pasti menurunkan emisi GRK per penumpang dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi. Penggunaan kendaraan tanpa motor dan berjalan kaki juga adalah pilihan yang dapat mengurangi emisi GRK.
- Pengurangan perjalanan. Mengurangi perjalanan, khususnya yang tidak perlu atau penting adalah cara termudah untuk mengurangi emisi GRK. Teknologi yang dapat dikembangkan untuk mendukung hal ini adalah video conference system, internet dan surat elektronik, blackberry dan sejenisnya untuk memungkinkan seseorang berkomunikasi dan bekerja dari jarak jauh.
- Pengelolaan kebutuhan transportasi (transportation demand management).
- Kebijakan harga (pricing policies) adalah penentuan harga/ penarikan biaya berdasarkan penggunaan bahan bakar, jarak yang ditempuh oleh kendaraan, kepadatan perjalanan dan penentuan harga parkir dan asuransi.
Baca juga:
- Pengelolaan Kebutuhan Transportasi (TDM)
- Sistem Transportasi Intelijen (ITS)
Referensi:
BPPT (The Agency for the Assessment and Application of Technology), “Indonesia’s Technology Needs Assessment for Climate Change”, Jakarta: March 2009.
McKinsey and Co, DNPI, “Indonesia’s Greenhouse Gas Abatement Cost Curve”, Interim Report, Jakarta: September 2009.
Kusumaputra, R. Adhi, “Sudahkah waktunya ERP diterapkan di Jakarta?”, Kompas Cetak, 30 Agustus 2008.
Wikipedia, “Electronic Road Pricing (Singapore)”, http://en.wikipedia.org/wiki/Electronic_Road_Pricing (Singapore), diakses tanggal 4 Mei 2010.
