Teknologi Adaptasi

Transfer teknologi hampir seluruhnya ditujukan untuk keperluan mitigasi, khususnya untuk sektor energi dan biasanya berupa pengalihan ide atau alat dari Negara maju ke Negara berkembang. Masih dipertanyakan apakah teknologi transfer untuk adaptasi juga harus mengikuti pola yang sama. Penting untuk ditekankan bahwa teknologi untuk adaptasi berbeda dari teknologi mitigasi. Tidak seperti mitigasi yang di banyak kasus melibatkan teknologi atau tindakan baru, adaptasi pada umumnya adalah kelanjutan dari proses yang sedang berlangsung dan teknologinya sudah diterapkan secara luas. Tindakan adaptasi tidak terkonsentrasi pada satu sektor seperti mitigasi, tapi tersebar di seluruh sektor seperti air, kesehatan, pertanian, infrastruktur, kelautan dan lain sebagainya. Dibandingkan mitigasi, teknologi adaptasi lebih rumit dan menantang namun pada umumnya tidak membutuhkan biaya sebanyak mitigasi.

Adaptasi di Wilayah Pesisir

Menurut IIED, 2007, 41 juta populasi Indonesia hidup di wilayah pesisir dengan ketinggian kurang dari 10 m. Komunitas pesisir memiliki kapasitas adaptasi yang amat rendah karena sebagian besar dari mereka miskin, berpendidikan rendah dan mempunyai akses sangat terbatas terhadap infrastruktur, kesehatan dan jasa lain. Perubahan iklim menambah tekanan pada komunitas pesisir.

Kenaikan muka air laut sebesar 8 mm per tahun diperkirakan akan menenggelamkan kawasan pesisir seluas kira-kira 476 ribu hektar dalam 100 tahun dari sekarang. Departemen Kelautan dan Perikanan telah menyatakan bahwa kawasan pesisir Indonesia sudah memasuki fase berisiko tinggi terhadap kenaikan muka air laut sehingga Indonesia harus melakukan tindakan serius.

Menurut UNFCCC, 2006, teknologi adaptasi di kawasan pesisir dapat dibagi tiga berdasarkan sifatnya: melindungi, retreat (mundur) dan mengakomodasi. Teknologi yang sifatnya melindungi terbagi menjadi tiga: struktur keras dan lunak dan teknologi berbasis kearifan lokal. Termasuk dalam struktur keras adalah dam/ bendungan, dinding laut, pelindung gelombang laut, pemecah ombak dan rumah yang ditinggikan. Termasuk dalam struktur lunak adalah gumuk pasir, restorasi atau pembuatan lahan basah, penggantian pasir di lepas pantai (beach nourishment) dan terumbu karang buatan. Sementara itu kearifan lokal yang sudah diterapkan secara umum meliputi dinding kayu, batu atau daun kelapa, aforestasi (penanaman mangrove kembali), perlindungan terumbu karang.

Yang termasuk dalam tindakan retreat adalah menentukan zona mundur, relokasi bangunan yang terancam, pelarangan pembangunan di daerah yang terkena dampak/ rawan terhadap erosi dan membuat perlindungan atas tanah.

Sementara itu, jenis tindakan yang mengakomodasi diantaranya adalah sistem evakuasi dan peringatan dini, asuransi, praktik pertanian baru seperti benih yang tahan dengan salinitas tinggi, peraturan/ standar bangunan yang baru yang lebih adaptif, perbaikan drainase dan sistem desalinasi.

Dua teknologi yang dianggap penting oleh pemangku kepentingan Indonesia adalah sistem desalinasi dan daur ulang air limbah menggunakan teknologi membran. Keduanya dianggap strategis bagi komunitas pesisir yang berjuang memenuhi kebutuhan air bersih.

Teknologi lain yang dianggap juga penting adalah teknologi perikanan yang canggih. Akibat perubahan iklim, suhu laut meningkat dan akibatnya salinitas juga berubah sehingga terjadi perubahan pola migrasi ikan dan berpindahnya ikan ke laut yang lebih dalam. Untuk mengatasinya, nelayan membutuhkan teknologi yang lebih canggih.

Struktur keras/ bangunan seperti dam dan dinding laut, struktur lunak dan pilihan kearifan lokal sudah diterapkan secara luas dan tidak terhalang kendala dalam teknologi.

Penanaman kembali mangrove diyakini memiliki dampak yang cukup besar bagi adaptasi wilayah pesisir. Sementara itu, penerapan sistem evakuasi dan peringatan dini juga dinilai penting untuk daerah rawan bencana termasuk wilayah pesisir Indonesia.

Adaptasi untuk Sumber Air

Pengelolaan sumber air terpadu (IWRM) menjadi sebuah keharusan dalam menghadapi kelangkaan air. Penyediaan air bersih harus dapat diakses oleh semua orang, khususnya orang miskin. IWRM diterapkan secara bersama-sama dengan tindakan adaptasi lain.

Teknologi adaptasi dapat diterapkan dari sisi pengguna dan pemasok air. Di perkotaan misalnya, perusahaan atau badan penyedia air bersih dan sanitasi dapat menerapkan teknologi seperti daur ulang air limbah, mengurangi kebocoran, menggunakan sanitasi tanpa air dan menengakkan aturan standar air. Sementara pengguna air dapat meningkatkan kapasitas reservoir dan melakukan desalinasi. Di dalam industri, air yang digunakan untuk proses pendinginan dapat berupa air dengan kualitas lebih rendah (bukan air layak minum).

Di daerah-daerah yang langka air bersih seperti di daerah pesisir maupun di daerah kering, teknologi pengolah air minum dan teknologi sanitasi yang maju diharapkan dapat membantu adaptasi terhadap perubahan iklim di daerah tersebut.

Adaptasi di Sektor Pertanian

Dalam laporan kajian ketiga (TAR)nya, IPCC menyimpulkan bahwa Negara di daerah kekurangan air, tropis dan zona temperate/ moderat di Asia akan mengalami ketahanan pangan dikalahkan oleh tingginya panas dan langkanya air, kenaikan muka air laut, banjir, kekeringan dan angin puyuh tropis.

Hingga derajat tertentu, tanaman secara alamiah akan beradaptasi terhadap kondisi iklim ekstrem. Namun masih sangat sedikit yang diketahui seberapa jauh tanaman dapat bertahan terhadap tekanan suhu tinggi. Sebagian besar adaptasi tanaman biji-bijian membutuhkan campur tangan manusia.

Upaya adaptasi yang dapat dilakukan di bidang pertanian diantaranya adalah riset tentang varietas baru yang lebih adaptif terhadap suhu tinggi dan air yang lebih sedikit. Upaya lain adalah dalam irigasi pertanian diperlukan pengaturan pemakaian air agar lebih hemat dan pengawasan erosi dan penggunaan irigasi tetes.

Praktik pertanian juga perlu disesuaikan untuk menjaga kelembaban tanah dan nutrisi, mengurangi air larian dan mengontrol erosi. Untuk itu dapat dilakukan rotasi tanaman, tidak melakukan mono-cropping (menanam hanya satu jenis tanaman saja) dan menjaga jarak tanam. Salah satu usaha lain untuk menyesuaikan dampak pemanasan global adalah mengubah waktu penanaman, misalnya penyebaran benih dilakukan lebih awal.

Tanpa perubahan iklim, sebenarnya pilihan-pilihan adaptasi tersebut sudah banyak diterapkan di Indonesia. Salah satu tindakan adaptasi yang paling penting di sektor pertanian adalah penelitian akan varietas baru yang lebih tahan pemanasan global.

(Balik ke Indeks)

Referensi:
UNFCCC, “Technologies for Adaptation in Climate Change”, 2006
Huq, Saleemul and Hannah Reid, “Community Based Adaptation: An IIED Briefing”, International Institute for Environment and Development, London: 2007