Status Emisi di Indonesia

Indonesia tercatat sebagai negara di urutan ketiga dalam daftar negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia ( Lihat Tabel ).  Hal ini terutama disebabkan karena pelepasan karbon dalam jumlah signifikan dari kegiatan deforestasi.  Emisi tahunan Indonesia dari keseluruhan sektor energi, pertanian dan sampah berjumlah sekitar 451 juta ton setara karbon dioksida (MtCO2e).  Namun perubahan penggunaan lahan dan kehutanan saja diperkirakan melepaskan sekitar 2.563 MtCO2e, yang sebagian besar didapat dari deforestasi, -seperti disebut oleh IPCC (Houghton 2003).  Walaupun data emisi dari pelbagai sumber bervariasi, kesimpulan akhirnya tetaplah sama: Indonesia adalah sebuah negara penghasil emisi gas rumah kaca yang besar.

Sumber : World Bank report, “Indonesia and Climate Change”, 2007

Sumber : World Bank report, “Indonesia and Climate Change”, 2007

Indonesia adalah tuan rumah atas daerah hutan yang sangat luas.  Sekitar 24 milyar ton stok karbon (BtC) tersimpan di tanaman dan tanah di area ini.  80 persen di antaranya (sekitar 19 BtC) tersimpan dalam hutan yang masih tegak berdiri ( Departemen Lingkungan, 2003 ).  Namun, dari 108 juta hektar area hutan, hampir separuhnya berada dalam kondisi yang menyedihkan dan terdegradasi ( Departemen Kehutanan, 2006 ).  Perubahan penggunaan lahan dan deforestasi yang diperkirakan mencapai angka 2 juta hektar per tahunnya, berakibat pada pelepasan simpanan karbon Indonesia dalam tingkat yang signifikan.

Sektor Kehutanan dan Lahan Gambut

Bagian terbesar , -sekitar 75%, dari emisi di sektor kehutanan dihasilkan oleh deforestasi dan konversi lahan, diikuti dengan konsumsi energi yang berhubungan dengan hutan (23%), dan proses industri terkait hutan lainnya (2%).

Kebakaran hutan adalah kontributor utama dari deforestasi dan perubahan peruntukan lahan.  Sebanyak 57% dari deforestasi dan konversi lahan yang ada disebabkan oleh kebakaran hutan.  Pada kebakaran hutan tahun 1997 misalnya, antara 3.000 sampai 9.000 MtCO2 dilepaskan ke atmosfer ( Page et al. 2002).  Jika dirata-rata, sekitar 1.400 Mt dilepaskan dalam kebakaran per tahunnya.  600 Mt lagi dilepaskan melalui pembusukan lahan gambut yang kering ( Wetlands International ).

Pemanasan global akan memulai suatu proses lingkaran setan karena ia mengeringkan hutan hujan dan lahan gambut, sehingga meningkatkan resiko lebih banyak lagi kebakaran hutan yang intens.

Sektor Energi

Emisi dari sektor non-hutan, -khususnya energi, masih berada pada tingkat rendah, namun tumbuh dengan sangat cepat.  Emisi saat ini dari sektor energi berjumlah sekitar 275 MtCO2e.  Angka ini berkontribusi hanya 9% dari keseluruhan total emisi Indonesia.

Namun demikian, emisi dari industri, pembangkit listrik dan sektor transportasi meningkat dengan sangat cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi.  Saat ini kebijakan pemerintah yang ada lebih mempromosikan ekspansi penggunaan bahan bakar fosil dan menyulitkan adopsi sumber energi yang bersih dan terbaharui.  Disinyalir, ini akan mengakibatkan tren peningkatan emisi dari sektor energi akan terus menunjukkan pertumbuhan yang tinggi, bahkan mencapai tiga kali lipat dalam 25 tahun mendatang dari 275 MtCO2e di 2003 ke sekitar 716 MtCO2e pada tahun 2030.  Jika dihitung per kapita, emisi gas rumah kaca dari sektor ini di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 150% dari dekade 1980an, atau 67% sejak tahun 1990 ( World Resources Institute, 2007 ).



Balik ke Indeks

468 ad