Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS) dan EOR
Penangkapan dan penyimpanan karbon adalah teknologi penangkapan karbon dioksida dari sumber titik yang besar seperti pembangkit berbahan bakar fosil dan penyimpanan karbon dioksida tersebut di media lain selain atmosfer. Biasanya karbon dioksida yang ditangkap akan diinjeksikan ke dalam formasi geologis (bebatuan) di dalam bumi atau ke dalam laut dalam untuk jangka yang panjang.
Ide awal dari teknologi ini adalah untuk menangkap karbon dioksida dari pembangkit listrik batubara, mengubahnya menjadi cairan dan menyimpannya untuk selamanya di dalam tanah atau lautan dalam. Formasi bebatuan alami dengan kedalaman ribuan meter di bawah permukaan dianggap lebih cocok untuk penyimpanan karbon ini, karena mirip dengan reservoir alami minyak dan gas. Penyimpanan di dalam lautan mempunyai risiko terjadinya asidifikasi/ pengasaman yang berbahaya bagi biota laut.
Konsep penangkapan dan penyimpanan CO2 dari pembangkit listrik dapat dikatakan baru dan belum diterapkan dalam skala besar. Walaupun demikian, teknologinya sudah ada sejak lama dan dilakukan untuk keperluan lain seperti proses industri, transportasi CO2 melalui pipa panjang yang dilakukan industri minyak dan gas, penginjeksian ke dalam tanah untuk menambah produksi minyak yang dilakukan di dalam tambang minyak tua.
Instalasi pertama dalam skala komersial adalah Weyburn, Kanada pada tahun 2000. Sekitar 330 km pipa tersambung dari tambang minyak Weyburn Sask. ke pembangkit gasifikasi batubara di Beulah, Dakota Utara. Berton-ton karbon dioksida ditransportasikan setiap hari untuk kemudian diinjeksikan ke dalam tanah. Di tambang minyak Weyburn juga terdapat proyek penangkapan minyak yang diperkaya (EOR) dengan biaya operasi mencapai 1 milyar dolar Kanada.
Pembangkit yang terintegrasi dengan CCS pertama kali beroperasi pada tahun 2008 di pembangkit Schwarze Pumpe yang dioperasikan oleh Vattenfall di Jerman Timur. Proyek yang telah dimulai sejak tahun 2001 ini adalah CCS untuk menangkap karbon dioksida dari pembangkit batubara berkapasitas 30 MW dengan batubara lignit.
CCS yang dipasang pada pembangkit listrik batubara dipercaya dapat mengurangi emisi karbon sebesar kira-kira 80 hingga 90% dibandingkan pembangkit tanpa CCS.
IPCC memperkirakan potensi ekonomi CCS dapat berkisar antara 10 hingga 55% dari upaya mitigasi GRK total hingga tahun 2100.
Masih menurut IPCC, penangkapan dan pemadatan CO2 memerlukan energi yang banyak dan pembangkit batubara akan memerlukan tambahan bahan bakar sebesar 25% hingga 40%. Pembangkit baru yang dilengkapi CCS akan mempunyai biaya energi lebih mahal sekitar 21 hingga 91%. Teknologi CCS yang ditambahkan pada pembangkit lama akan menelan biaya lebih mahal. Namun demikian, teknologi ini dipercaya dapat diterapkan dengan biaya lebih murah (secara ekonomi) di masa mendatang sekitar 15 hingga 20 tahun dari sekarang, jika dibandingkan dengan pembangkit batubara tanpa CCS yang digunakan sekarang.
Di dalam laporan “The Future of Coal” yang dikeluarkan oleh MIT (2007), pembangkit batubara dengan teknologi serbuk subkritis, superkritis dan ultra-super kritis yang dipasangi teknologi CCS akan meningkat biaya pembangkitannya antara 1,5 hingga 1,7 kali lipat. Sementara itu, efisiensi pembangkitan turun sekitar 22% hingga 27%, misalnya untuk teknologi subkritis efisiensi tanpa CCS adalah 34,3% dan jika dipasangi CCS akan turun menjadi 25,1%. Hal ini disebabkan karena CCS membutuhkan bahan bakar untuk pengoperasiannya. Rata-rata kenaikan konsumsi batubara untuk pembangkit dengan CCS adalah 1,3 kali lipat dari pembangkit sejenis tanpa CCS. Sementara itu penurunan emisi CO2 cukup signifikan, teknologi subkritis tanpa CCS mengemisikan 931 gCO2/ kWh sementara teknologi yang sama dengan CCS hanya mengemisikan 127 gCO2/ kWh atau lebih rendah 86%. Biaya penurunan emisi CO2 berkisar antara 40,4 hingga 41, 3 dollar Amerika per ton CO2 yang dihindari.
Potensi EOR di Indonesia dapat ditemukan terutama di Kalimantan dan Sumatera, diantaranya termasuk cadangan minyak dengan teknologi injeksi uap di Duri, Riau, sumber CO2 alami di Kepulauan Natuna, reservoir minyak yang sudah menipis seperti di Sangatta dan Attaka dan CO2 dari pabrik gas alam cair di Bontang.
Pengalaman Indonesia dengan teknologi EOR menunjukkan bahwa produksi minyak dapat bertambah sekitar 8% hingga 16% dan penggunaan karbon dioksida berada dalam kisaran 5 hingga 10 juta kubik kaki per barel. Diperkirakan sekitar 38 hingga 152 juta ton CO2 dapat disimpan di dalam reservoir minyak yang semakin menipis di Kalimantan dan sekitar 265 hingga 531 juta barel minyak dapat ditangkap kembali (recover). Di Sumatera Selatan, sekitar 18 hingga 36 juta ton CO2 dapat disimpan di dalam reservoir minyak dan potensi minyak yang dapat ditangkap kembali adalah sekitar 84 hingga 167 barel. Biaya investasi yang diperlukan bervariasi dan tergantung pada banyak faktor. Biaya penurunan emisi CO2 diperkirakan berkisar antara 50 hingga 70 dollar Amerika per ton CO2.
Referensi:
BPPT dan KLH, “Indonesia’s Technology Needs Assessment for Climate Change”, Jakarta: Maret 2009.
Canadian Geographic Magazine, www.canadiangeographic.ca/magazine/jf08/indepth/weyburn.asp, diakses tanggal 2 Mei 2010.
The Massachusetts Institute of Technology (MIT), “The Future of Coal: Options for A Carbon-Constrained World”, 2007.
Situmeang, Hardiv H. Dr, “CCS – Financing Challenges and Opportunities: Investment Drivers, Incentives and Financing Options, The Role of Developing Countries”, Presentation at World Energy Council, London: 2008.
Wikipedia, “Carbon Capture and Storage”, http://en.wikipedia.org/wiki/Carbon_capture_and_storage, diakses tanggal 2 Mei 2010.
Vattenfall website, www.vattenfall.com, diakses tanggal 2 Mei 2010.

