Kenaikan Paras Air Laut dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Pesisir

Paras air laut telah mengalami kenaikan dan diperkirakan akan semakin naik hingga 30 cm sampai 60 cm. Jika lapisan es Greenland dan Antartika Barat meleleh seluruhnya, maka kenaikan muka air laut dapat mencapai 1,2 meter. Penyebab utama naiknya muka air laut adalah ekspansi panas dari bertambahnya suhu laut. Sekelompok ilmuwan beranggapan bahwa lapisan es di Greenland dan Antarika Barat meleleh dengan laju yang lebih besar dibandingkan laju yang diperkirakan sebelumnya.

Kenaikan muka air laut ini akan berdampak besar bagi penduduk pesisir di seluruh dunia. Naiknya air laut telah menyebabkan tenggelamnya lahan rendah, erosi lahan basah dan danau, banjir yang lebih parah dan meningkatnya salinitas air laut. Dampak paling dramatis adalah tenggelamnya Negara-negara kepulauan kecil yang sebentar lagi akan menjadi sejarah.

Daerah pesisir sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dampak ini akan menambah tekanan dan permasalahan yang sudah terjadi di daerah pesisir mulai dari kelangkaan air, terbatasnya infrastruktur, transportasi, sarana kesehatan dan ketahanan pangan. Untuk itu perlu dilakukan pengembangan kapasitas dan pengurangan kerentanan yang harus dilakukan dengan mengedepankan habitat alam dan sistem manusia melalui rencana pembangunan dan sosial ekonomi. Sebelum dilakukan upaya adaptasi, kajian kerentanan perlu untuk terlebih dahulu dilakukan.

Selain kenaikan muka air laut, dampak perubahan iklim yang dapat mempengaruhi penduduk pesisir adalah perubahan pola angin, perubahan pola preesipitasi dan siklus hidrologi serta perubahan suhu udara dan air. Kesemuanya dapat mengakibatkan tenggelamnya lahan rendah dan rawa-rawa, erosi pantai, banjir dan gelombang ekstrem, intrusi air laut ke sungai dan air tanah dalam, kenaikan muka air sungai, perubahan gelombang laut dan perubahan sedimentasi.

Akibat dari perubahan iklim adalah menurunnya kualitas lingkungan pesisir dan pulau kecil karena abrasi, intrusi air laut dan polusi. Produktivitas perikanan juga diperkirakan akan menurun karena rusaknya mangrove dan eksosistem terumbu karang dan perubahan lahan pancing, migrasi ikan dan masih banyak lagi faktor lain.

Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2009), daerah pesisir dan pulau kecil yang akan tenggelam 100 tahun lagi dari sekarang meliputi daerah seluas 475.905 hektar atau rata-rata kehilangan lahan/ pulau sebesar 4,76 hektar per tahun.

Perubahan iklim akan membawa bencana bagi 41 juta orang Indonesia yang tinggal di daerah pesisir dengan ketinggian di bawah 10 meter. Tenggelamnya tambak ikan dan udang di Karawang dan Subang telah mengakibatkan kerugian sebesar setengah juta dollar Amerika. Kenaikan muka air laut telah menenggelamkan 26 ribu kolam ikan di daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Suhu laut yang meningkat telah merusak terumbu karang di Bali Barat dan Kepulauan Pari pada kejadian El-Nino tahun 1997-1998.

Komunitas pesisir di Indonesia pada umumnya memiliki kapasitas adaptasi yang kecil. Delapan ribu desa pesisir dengan sekitar 16 juta penduduk adalah penduduk miskin dengan indeks kemiskinan sekitar 32%. Komunitas ini sangat rentan karena miskin, hanya memiliki infrastruktur yang terbatas, berpendidikan rendah, memiliki akses yang terbatas pada layanan kesehatan dan layananan lainnya.

Perlu dilakukan upaya adaptasi yang meliputi pembangunan struktur dan non-struktur. Pendekatan dalam memperbaiki karakteristik fisik meliputi metoda perlindungan alami (mangrove, dumuk pasir dan terumbu karang) dan metoda buatan manusia (breakwater, dam, perlindungan konstruksi, rumah yan ditinggikan dan terumbu buatan).

Upaya non-struktur yang dapat ditemph adalah mapping, regim peraturan, relokasi, reklamasi, perubahan perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan serta peningkatan kesadaran masyarakat.

Balik ke Indeks

Referensi:

Diposaptono, Subandono, ”Climate Change Mitigation and Adaptation in Coastal Zones and Small Islands”, Presentasi pada Focus Group Discussion tentang Kelautan” dan “Adaptasi” dalam rangka Bantuan Teknis untuk DNPI, EC, 2009.

Greiner, Sandra, “Briefing Paper on Adaptation”, dalam Bantuan Teknis untuk DNPI, EC, Jakarta: Agustus 2009.