Gas-gas Rumah Kaca
Gas rumah kaca adalah gas dalam atmosfer bumi yang memiliki kemampuan untuk menyerap radiasi infra-merah yang dipancarkan oleh permukaan bumi. Karena gas ini menyerap radiasi, ia kemudian memantulkan radiasi tersebut ke bumi serta menyebabkan pemanasan di permukaan bumi dan atmosfer bagian bawah.
Gas-gas rumah kaca tak dapat terurai dalam waktu singkat. Kebanyakan gas ini tetap ada dalam bentuknya selama bertahun-tahun, sehingga berkontribusi terhadap pemanasan global dalam periode waktu yang sangat lama. Gas-gas rumah kaca memiliki perbedaan dalam tingkat konsentrasi di atmosfer, periode waktu mereka “berdiam” di atmosfer, dan efisiensi mereka dalam menyerap dan memantulkan radiasi. Gas-gas rumah kaca yang utama adalah:
- Uap air
- Karbon Dioksida (CO2)
- Metana (CH4)
- Nitrogen Oksida (N2O)
- HFC
- PFC
- SF6
Selanjutnya, masing-masing gas rumah kaca tersebut memiliki apa yang disebut dengan Global Warming Potential (GWP), -yang secara sederhana dapat dipahami sebagai seberapa jauh gas tersebut berpotensi mempengaruhi pemanasan global. GWP karbon dioksida sebenarnya tergolong lemah. Namun, karena jumlahnya yang jauh lebih besar dibanding dengan gas rumah kaca yang lain, secara akumulasi efek yang ditimbulkannya pun jauh lebih besar. Juga, patut dicatat bahwa CO2 memiliki usia di atmosfer yang sangat lama. Ia membutuhkan 80-120 tahun sebelum bisa terurai kembali.
Dengan menggunakan nilai GWP CO2 sebagai acuan, maka potensi pemanasan global gas-gas lain pun dapat dikalkulasi. Metana, misalnya, memiliki GWP 21 yang berarti memiliki potensi memanaskan bumi 21 kali lipat dari molekul karbon dioksida. Hanya saja, akumulasi pemanasannya relatif tak terlalu berbahaya karena usianya dalam atmosfer hanya 8 tahun. Nitrogen Oksida yang dihasilkan oleh pembuatan pupuk berbasis nitrogen, memiliki GWP 310. Sementara HFC, PFC dan SF6 memiliki potensi pemanasan global yang paling tinggi, -yaitu sebesar masing-masing GWP 7.000, 12.200, dan 22.000. Keempat gas yang disebut terakhir tak menyimpan potensi bahaya yang besar karena jumlahnya yang sangat sedikit dalam atmosfer. Sementara uap air, yang sejatinya adalah gas rumah kaca yang paling kuat, relatif tak terlalu berpengaruh karena usianya di atmosfer hanya beberapa hari.
Sumber-sumber gas rumah kaca berasal dari berbagai proses. CO2 dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil (batubara, minyak bumi, gas alam), deforestasi dan kerusakan hutan, atau lepasnya karbon tanah karena rusaknya ekosistem lahan gambut. Metana dilepaskan oleh pembusukan materi organik serta oleh gas buang atau kotoran makhluk hidup. HFC, PFC dan SF6 diproduksi oleh proses industri seperti yang digunakan dalam mesin pendingin atau sebagai isolator dalam jaringan listrik tegangan tinggi. Untungnya, sebagian besar dari gas industri ini telah sangat terbatasi penggunaannya melalui Protokol Montreal yang berlaku mulai tahun 1989.

0 Comments
Trackbacks/Pingbacks