Gas Flaring/ Pemanfaatan kembali gas suar bakar dari kegiatan eksplorasi minyak dan gas

Ada dua sumber utama emisi GRK dari kegiatan eksplorasi minyak dan gas yaitu gas suar bakar yang dihasilkan dari eksplorasi, eksploitasi dan pemurnian; dan kebocoran CO2 pada proses produksi (dari sumur, pipa, kilang dan pabrik gas petroleum atau gas alam). Pada kegiatan eksplorasi, eksploitasi dan pemurnian minyak, gas yang dihasilkan dibakar sebelum dibuang ke atmosfer. Gas inilah yang disebut gas suar bakar (flare).

Rata-rata sekitar 50 persen atau lebih gas alam diemisikan ke atmosfer dari operasi minyak dan gas hulu. Tingkat emisi yang tinggi tersebut dapat ditekan hingga antara 20 dan 50%. Gas banyak terbuang di banyak fasilitas produksi minyak dengan produksi gas berjumlah kecil atau yang berada di lokasi terpencil, jauh dari sistem pengumpul gas. Banyak juga blok penambangan minyak di Indonesia yang belum dilengkapi fasilitas pengumpul gas. Selain kehilangan dari pembakaran, gas dari produksi minyak dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, kogenerasi dan bahan bakar transportasi. Alternatif ini dapat mengurangi emisi GRK hingga 50 sampai 99%.

Menurut Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Suyartono, kegiatan hulu migas dapat mengurangi emisi gas suar bakar antara 30 hingga 60% dengan mengembangkan industri gas yang ramah lingkungan. Kebijakan penurunan gas suar bakar tersebut sesuai dengan upaya pencapaian zero flare sebelum tahun 2012. Ditjen Migas bekerja sama dengan Bank Dunia telah melakukan inventarisasi jumlah gas suar bakar dan CO2 venting/ kemungkinan pemanfaatannya yang diproduksi oleh badan usaha migas. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah penginjeksian kembali gas ke dalam sumur pemboran. Cara ini sudah dilakukan di penambangan gas Tangguh, Papua.

Pemanfaatan kembali gas suar bakar dilakukan dengan menurunkan kehilangan dari pembakaran dengan menangkap kembali gas suar bakar untuk dijadikan bahan baku pabrik hidrogen, bahan bakar ataupun produk gas alam cair. Dengan dipasangnya unit pemanfaatan kembali gas ini, maka konsumsi bahan bakar dan uap dari sebuah kilang minyak akan menurun sehingga emisi GRK akan turun. Selain menurunkan emisi karbon, pemanfaatan gas suar bakar dapat menurunkan emisi nitrogen oksida dan karbon monoksida.

Potensi pengurangan emisi CO2 dari pemanfaatan gas suar bakar diperkirakan sekitar 5,7 ton per tahun. Satu unit pemanfaatan gas bakar dengan kapasitas 1 juta kubik kaki standar per hari dapat menghindari emisi GRK sebesar 600 ribu ton CO2 per tahun. Biaya investasi yang dibutuhkan adalah sekitar 7 juta dollar Amerika per unit dan biaya penurunan emisi sekitar 12 dollar Amerika per ton CO2.

Menurut Bank Dunia (2007) yang dikutip oleh Harian Indopos (12 April 2010), Indonesia telah membakar sekitar 215 juta kubik kaki standar gas dan berada di urutan ke-13 di dunia. Akibatnya, Indonesia mengemisikan sekitar 12 juta ton CO2 ke atmosfer dan membuang lebih dari 400 juta dollar Amerika tiap tahunnya. Berdasarkan data Ditjen Migas, volume gas suar bakar Indonesia adalah sekitar 113 juta kubik kaki standar per hari, dimana 109 juta kubik kaki standar per hari diantaranya dihasilkan dari kegiatan hulu migas.

Beberapa perjanjian jual beli gas suar bakar untuk dimanfaatkan sebagai energi telah  ditandatangani seperti misalnya di Mudi, Sukowati, dimana 35,7 BSCF (milyar kubik kaki) gas suar bakar dijual dengan nilai 71,4 juta dollar Amerika untuk 6 tahun. Sementara itu, di Matoa, Papua, gas suar bakar dengan volume 17,5 BSCF dijual dengan nilai 25,9 juta dollar Amerika selama 10 tahun.

Menurut menteri perekonomian Hatta Rajasa, seperti dikutip Harian Indopos (12 April 2010), gas suar bakar akan dimasukkan ke dalam program jangka pendek pemerintah. Gas alam sangat dibutuhkan untuk pasokan energi domestik sehingga gas suar bakar dinilai sangat tidak menguntungkan. Lapangan gas di Blok Cepu memiliki potensi gas sebesar 40 juta kubik kaki standar per hari. Saat ini gas tersebut dibakar karena infrastruktur untuk menyalurkan gas belum dibangun.

Balik ke Indeks

Referensi:

BPPT dan KLH, “Indonesia’s Technology Needs Assessment for Climate Change”, Jakarta: Maret 2009.

Indopos, “Percepat Gas Flare Masuk ke Sistem”, 12 April 2010.

TambangNews, “Gas Flare Harus Dikurangi”, www.tambangnews.com, 16 September 2010.