Dampak terhadap Sumber Air: Semakin langkanya air bersih, menurunnya kualitas air, kompetisi untuk mendapatkan air
Lebih dari satu milyar orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman. Diperkirakan pada tahun 2025, sekitar 1,8 milyar orang hidup di daerah yang langka akan air bersih dan dua pertiga dari penduduk dunia hidup dalam kondisi dengan sumber air sangat terbatas. IPCC memproyeksikan di tahun 2020 sekitar 75 hingga 250 juta orang di Afrika akan semakin kekurangan air disebabkan oleh perubahan iklim. Sedangkan 120 juta hingga 1,2 milyar orang di Asia dapat mengalami hal yang sama dan sekitar 12 hingga 81 juta orang di Amerika Latin.
Pemanasan global menyebabkan melelehnya es, glasier dan salju yang seiring waktu akan menambah parah kelangkaan air di berbagai belahan dunia. Satu per enam dari penduduk dunia saat ini bergantung pada lelehan glasier dan tutupan salju untuk air minum dan irigasi pertanian. Reservoir es menyimpan 75% cadangan air bersih dunia, sehingga dengan melelehnya es tersebut jumlah cadangan otomatis berkurang dan mengakibatkan air bersih semakin langka.
Langkanya air akibat populasi yang bertambah dan kebutuhan yang meningkat ditambah dampak pemanasan global yang mengakibatkan keringnya sumber air dan makin menipisnya cadangan air, telah mengakibatkan kompetisi antar Negara dan antar daerah/suku yang berbagi sumber air yang sama untuk mendapatkan air. Hal ini dapat berujung pada konflik. Diperkirakan lebih dari 50 negara di 5 benua dapat terjebak dalam sengketa sumber air kecuali mereka segera menandatangani perjanjian yang disepakati seluruh pihak dalam pembagian reservoir, sungai dan air tanah dalam.
Kelompok Negara yang paling rentan terhadap konflik air ini adalah Timur Tengah. Sepuluh dari lima belas Negara paling miskin air terletak di daerah ini. Negara-negara Timur Tengah memfokuskan penelitian dan kegiatan dalam pengelolaan terpadu wilayah sungai. Kemampuan produksi dari sumur-sumur air jauh lebih sedikit disbanding kebutuhan air minum dan terutama untuk irigasi pertanian. Dibutuhkan revolusi cara bertani dengan kebutuhan air yang sedikit untuk dapat bertahan dengan cadangan air yang terbatas. Konflik dapat juga terjadi di Afrika dan Asia dimana beberapa Negara berbagi sumber air yang jumlahnya kian terbatas.
Disinyalir konflik antar suku dan antara rakyat dari suku tertentu dengan militer di Darfur, Sudan disebabkan oleh perebutan sumber air. Dalam laporan tahun 2007: Sudan: Post-Conflict Environmental Assessment, UNEP mengatakan, “ Skala perubahan iklim seperti yang terjadi di Darfur Utara hampir tidak pernah terjadi sebelumnya: berkurangnya curah hujan telah mengubah jutaan hektar lahan yang sudah sangat kering menjadi padang pasir.
Dampak perubahan iklim diperkirakan berhubungan langsung dengan konflik di daerah tersebut ketika desertifikasi telah menambah tekanan terhadap kehidupan masyarakat penggembala, memaksa mereka untuk pindah ke selatan untuk mencari padang rumput.” Konflik di Darfur yang dimulai tahun 2003 merupakan konflik berdarah yang memakan korban hingga ratusan ribu jiwa dan jutaan orang kehilangan rumahnya.
Referensi:
Global Policy, “Sudan: Watermelon, Conflict and Climate Change”, www.globalpolicy.org, diakses tanggal 4 Mei 2010.
Greiner, Sandra, “Briefing Paper on Adaptation”, dalam Bantuan Teknis untuk DNPI, EC, Jakarta: Agustus 2009.
United Nations Environment Programme (UNEP), “Sudan: Post-Conflict Environmental Assessment”, 2007.
