Dampak terhadap Keanekaragaman Hayati, Habitat dan Spesies Langka
Jika tidak dilakukan apapun terhadap perubahan iklim, kepunahan dari hampir 40% dari spesies dunia akan terjadi di paruh kedua abad ini. Badan internasional untuk konservasi alam (IUCN) dalam laporannya tahun 2008 mencatat 38% spesies telah terancam punah, termasuk 25% dari seluruh mamalia. Menurut laporan kajian keempat (FAR) dari IPCC, “ketahanan dari banyak ekosistem akan dikalahkan pada abad ini oleh kombinasi perubahan iklim dan gangguan yang diakibatkan oleh perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, kebakaran, serangga, asidifikasi laut dan penyebab perubahan global lainnya yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Spesies yang paling rentan terhadap perubahan iklim memiliki habitat yang khusus, toleransi lingkungan yang terbatas dan besar kemungkinannya untuk dikalahkan oleh perubahan ikim dan memiliki ketergantungan akan pemicu atau interaksi lingkungan khusus yang kemungkinannya besar untuk dihancurkan oleh perubahan iklim. Menurut IPCC sistem yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim adalah terumbu karang, bioma es laut dan ekosistem tanah tinggi lainnya seperti hutan boreal (hutan yang letaknya di daerah lintang utara), ekosistem pengunungan dan ekosistem iklim mediterania.
Perubahan iklim akan mengakibatkan kenaikan suhu air laut sekitar 0,2 hingga 2,5 derajat Celsius. Sedikit saja suhu berubah dapat menyebabkan dampak yang besar terhadap vitalitas, pertumbuhan dan laju reproduksi organisme laut . Asidifikasi laut dan kenaikan suhu air laut menyebabkan memutihnya terumbu karang yang dikenal dengan fenomena “coral reef bleaching”. Kerusakan terumbu karang sebagai tempat hidup berbagai jenis organisme laut tentu akan menyebabkan kepunahan berbagai jenis organisme termasuk ikan. Perubahan habitat laut membawa dampak serius bagi penduduk pesisir Indonesia yang mencari nafkah sebagai nelayan. Turunnya jumlah tangkapan ikan disinyalir sebagai akibat perubahan pola migrasi ikan yang menyesuaikan kondisi perubahan salinitas air laut. Salintitas air laut berubah akibat suhu yang lebih tinggi tadi.
Terumbu karang seluas sekitar 50 ribu km2 atau sekitar 18% dari jumlah total seluruh dunia sudah berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Kejadian El-Nino tahun 1997-1998 mengakibatkan pemutihan terumbu karang dunia sebesar 16%. Di dalam survei tahun 2000, hanya 6% terumbu karang di Indonesia berada dalam kondisi sangat baik, 24% baik dan 70% nya ada dalam kondisi cukup hingga buruk. (John Hopkins University dan Terangi, 2003 dalam PEACE 2007). Sebuah penelitian di Taman Nasional Bali Barat juga menemukan bahwa sebagian besar terumbu karang berada dalam kondisi sangat buruk. Di Pulau Pari, Taman Nasional Pulau Seribu, 50 hingga 60% terumbu karang telah memutih di tahun 1997 (Setiasih, 2006 dalam PEACE, 2007).
Kenaikan muka air laut juga telah menyebabkan tenggelamnya tambak udang dan ikan di beberapa daerah di Indonesia termasuk di pantai-pantai Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh dan Sulawesi Selatan.
Indonesia memiliki kenakearagaman hayati yang sangat kaya dan unik, termasuk keanekaragaman hayati tanaman biji-bijian. Pemanasan air laut dan gangguan ekosistem yang diperparah oleh perubahan iklim menyebabkan dampak terhadap keanekaragaman hayati. Perubahan terhadap ekosistem alami juga akan mempengaruhi iklim. Pada akhirnya, semuanya akan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan barang serta jasa ekosistem lainnya. (Reid, et.al, 2004 dalam PEACE, 2007).
Ekosistem yang sudah terancam oleh aktivitas manusia akan mengalami tekanan yang lebih berat akibat perubahan iklim. Spesies akan lebih rentan dan membutuhkan adaptasi baru terhadap predator dan kompetitor (UNEP, 2007 dalam PEACE, 2007).
Kebakaran hutan menghancurkan habitat, satwa dan tanaman secara langsung dan besar-besaran. Sementara yang bertahan akan menghilang secara perlahan. Sebagai contoh kebakaran hutan tahun 1997-1998 mengakibatkan menurunnya populasi orang utan di Kalimantan secara drastis, sebesar 33% (Rijksen, et.al, 2006 dalam PEACE 2007).
Referensi:
PEACE, “Indonesia and Climate Change: Current Status and Policies, World Bank, Jakarta: 2007
International Union for Conservation of Nature (IUCN), “Wildlife in a Changing World: An analysis of the 2008 IUCN Red List of Threatened Species”, 2008.
UNEP, “Biodiversity and Climate Change”, Secretariat of the Convention of Biological Diversity and UNEP, 2007.

