Dampak terhadap Hutan
Hutan tropis mempunyai peran yang amat penting dalam alam. Gangguan terhadap hutan dalam bentuk pengrusakan atau pengalihgunaan menjadi perkebunan dan kebakaran hutan akan menyebabkan hutan mengemisikan karbon secara besar-besaran ke atmosfer. Apalagi di Indonesia, lahan gambut yang kaya akan bahan organik sangat rentan terhadap kekeringan dan kebakaran sehingga akibatnya emisi GRK Indonesia dari sektor ini merupakan yang terbesar kontribusinya terhadap emisi GRK keseluruhan.
Sebaliknya, hutan juga menjadi “korban” dari perubahan iklim terutama perubahan dua variabel iklim utama: suhu dan curah hujan (precipitation). Perubahan suhu dan curah hujan akan mempengaruhi lokasi, komposisi, kesehatan dan produktivitas hutan. Perubahan iklim dapat menyebabkan migrasi spesies tumbuhan sehingga menyebabkan perubahan distribusi tanaman secara geografis dan perubahan komposisi tanaman di dalam hutan. Umumnya, tanaman akan bergerak menuju daerah yang lebih tinggi dan dingin. Perubahan iklim juga akan menyebabkan perubahan produktivitas dengan derajat yang berbeda-beda di setiap daerah, tergantung pada lokasi, spesies tumbuhan, ketersediaan air dan pengaruh fertilisasi CO2.
Pemanasan global bersama-sama dengan fenomena anomali iklim seperti El-Nino juga disinyalir sebagai faktor penentu bertambahnya frekuensi dan intensitas kebakaran hutan (alami). Indonesia mengalami musim kering yang buruk sehingga kebakaran hutan menimbulkan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan yang amat dahsyat di tahun 1997-1998 dan terulang lagi dalam derajat yang lebih rendah pada tahun 2007. EEPSEA (1999) memperkirakan kerugian total yang diderita Indonesia antara tahun 1997-1998 akibat kebakaran hutan sekitar 5-6 milyar dollar yang dihitung dari kehilangan vegetasi kayu, keanekaragaman hayati dan dampak kesehatan manusia jangka panjang. Kejadian ini dapat menjadi pembanding bagaimana situasi dan kerugian yang mungkin dihadapi jika pemanasan global suatu saat menyebabkan kebakaran hutan serupa. Dampak yang akan terjadi dapat bervariasi dan sangat tergantung pada kesiapan Indonesia dalam beradaptasi. Kebijakan-kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah adalah misalnya pembatasan aktivitas logging dan perkebunan di daerah yang rawan kebakaran seperti lahan gambut.
Selain itu, dampak pemanasan global terhadap hutan adalah kekeringan yang akan menyebabkan vegetasi lebih rentan terhadap serangan serangga yang justru semakin cepat berkembang biak di suhu yang lebih hangat.
Referensi:
Economy and Environment Program of South East Asia (EEPSEA) and World Wildlife Fund for Nature (WWF), “Haze-Related Damages from the 1997 Forest Fire”, IDRC and ISEAS, Singapore: 1999
Food and Agriculture Organization, Forestry Department, “Climate Change Impacts to Forest Health”, FAO: 2008
