Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan: bertambahnya penyakit yang disebabkan air dan vektor
Laporan Kajian Keempat (FAR) yang diluncurkan IPCC tahun 2007 menyimpulkan bahwa dampak perubahan iklim terhadap kesehatan termasuk:
Semakin sering dan intens nya gelombang panas yang dapat menyebabkan kematian
Bertambahnya jumlah orang yang tewas, terkena penyakit ataupun luka akibat banjir, petir, kebakaran dan kekeringan
Bertambahnya penyakit pernafasan dan kematian yang berhubungan dengan pencemaran ozon di tingkat tanah
Perubahan perilaku vektor yang menyebabkan penyakit infeksiusBertambahnya kasus malnutrisi dan kelainan termasuk yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak
Dampak langsung dari perubahan iklim terhadap kesehatan manusia dapat termanifestasi dalam bentuk: stress akibat perubahan variabel iklim, kelainan panas, perubahan respon kekebalan dan katarak. Dampak tidak langsungnya berupa bertambahnya penyakit yang dibawa oleh nyamuk karena perubahan praktik pertanian, bertambahnya kejadian kekurangan gizi yang menyebabkan bertambahnya frekuensi tuberculosis (TBC), campak dan pes, bertambahnya penyakit yang dibawa oleh vektor yang disebabkan kondisi sanitasi yang buruk dan betambahnya penyakit yang dibawa oleh air yang disebabkan dari bertambahnya frekuensi dan magnitude dari banjir dan kekeringan (KLH, 1994). Laporan yang sama juga memprediksi kenaikan angka kejadian malaria, DBD dan diare di masa mendatang. Dari tahun 1989 hingga 2070, kejadian malaria akan meningkat sebanyak 18% dan DBD akan bertambah 4 kali lipat.
Laporan WHO (2002) menyimpulkan bahwa perubahan iklim menyebabkan meningkatnya 2,4% kasus diare dan 6% kasus malaria di dunia pada tahun 2000.
Kejadian El-Nino tahun 1997-1998 dapat dijadikan pengukur bagaimana kira-kira dampak bumi yang semakin panas terhadap kesehatan public. Pada rentang waktu dua tahun tersebut, El Nino dihubungkan dengan meningkatnya kejadian malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Untuk pertama kalinya, malaria telah menyebar ke daerah tinggi Irian Jaya dengan ketinggian 2103 meter pada tahun 1997. Pada tahun 2004, para peneliti menyimpulkan perilaku baru dari virus yang menyebabkan dengue telah muncul . Saat itu angka kejadian DBD dilaporkan meningkat dan menyebar dengan cepat dan memakan korban lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Hubungan antara perubahan iklim dan penyakit serta masalah kesehatan masih belum diteliti dengan sempurna. Namun sebagai peringatan dini akan situasi yang mungkin saja terjadi jika pemanasan global terus berlangsung, meningkatknya kasus DBD di Indonesia sepanjang musim hujan dapat saja disebabkan karena suhu bumi yang makin meningkat. Perubahan suhu dan curah hujan dapat merangsang nyamuk untuk memperluas habitatnya. Hal ini akan menyebabkan nyamuk berkembang biak lebih cepat dan menyebar, membuat penyebaran penyakit juga menjadi lebih sering.
Referensi:
IPCC, “Fourth Assessment Report: Climate Change 2007 Syntehsis Report”, Geneva, Switzerland: 2007
Ministry of Environment (KLH), “Report of the Regional Study on Global Environment Issues: Country Study of Indonesia”, ADB, 1994.
PEACE, “Indonesia and Climate Change: Current Status and Policies, World Bank, Jakarta: 2007
