Energi Bersih: Jalan Keluar Krisis Keuangan
Perdana Menteri Yunani George Papandreou meminta aktivasi bantuan finansial untuk negaranya yang sedang mengalami kesulitan sejumlah kira-kira US$ 60 miliar dari Uni Eropa dan International Monetary Fund. Selain di Yunani, krisis juga terasa di sejumlah ibukota di Eropa, mulai dari London hingga Berlin. Di samping kesulitan yang dirasakan masyarakat Yunani dan daerah-daerah di sekitarnya, terdapat sebuah pertanyaan mengenai dampak krisis ini terhadap komitmen negara-negara anggota Uni Eropa untuk mengurangi emisi sebanyak 80% di tahun 2050.
Sebuah laporan yang disusun oleh European Climate Foundation dengan analisa teknis dan ekonomi dari Imperial College London, KEMA, Oxford Economics, McKinsey & Company, E3G, dan Energy Research Centre of the Netherlands memiliki jawaban yang mengejutkan. Analisa yang disebut Roadmap 2050 itu menyatakan bahwa dalam setiap jalur rendah karbon yang diuji, biaya listrik yang dikeluarkan sebanding dengan biaya penggunaan infrastruktur yang menghasilkan emisi karbon. Dengan kata lain, mereka dapat mengurangi jejak karbon dan melakukan mitigasi atas dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan, atau tidak melakukannya sama sekali, dengan harga yang sama.
Bagaimana ini bisa terjadi? Penelitian menunjukkan bahwa harga untuk fasilitas energi daur ulang memang besar, namun biaya pengoperasiannya jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit listrik konvensional. Karena itu, diharapkan target negara-negara Uni Eropa tetap bisa tercapai kendati krisis tidak dapat dihindarkan.



0 Komentar
Trackbacks/Pingbacks