Kondisi Perubahan Iklim di Indonesia

Screen shot 2010-03-26 at 12.52.52 PM

Indonesia dan perubahan iklim

Kondisi perubahan iklim di Indonesia mungkin adalah suatu topik yang terlalu luas untuk dituangkan dalam sebuah artikel pendek.  Suatu tinjauan komprehensif mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia membutuhkan suatu studi ilmiah khusus.  Alih-alih, tulisan singkat ini adalah paparan sederhana mengenai beberapa aspek krusial yang sifatnya urgen karena mengandung implikasi yang sangat serius bagi Indonesia dan penduduknya.

Deforestasi, degradasi lahan gambut dan kebakaran hutan menempatkan Indonesia dalam posisi tiga besar negara dengan emisi gas rumah kaca tertinggi di dunia.  Emisi dari sektor deforestasi dan kebakaran hutan mencapai jumlah lima kali lipat lebih besar dari emisi sektor non-hutan.  Emisi dari sektor industri dan energi relatif masih rendah, namun bertumbuh dengan sangat cepat.

Pada saat yang sama, Indonesia beresiko mengalami kerugian yang signifikan karena perubahan iklim.  Karena keberadaannya sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.  Kekeringan yang semakin panjang, frekuensi peristiwa cuaca ekstrem yang semakin sering, dan curah hujan tinggi yang berujung pada bahaya banjir besar; -semuanya merupakan contoh dari dampak perubahan iklim.  Terendamnya sebagian daratan negara, -seperti yang terjadi di Teluk Jakarta-, telah mulai terjadi.  Demikian pula, keberagaman spesies hayati yang sangat kaya dimiliki Indonesia juga berada dalam resiko yang sangat besar.  Pada gilirannya, hal ini akan membawa efek yang merugikan bagi sektor pertanian, perikanan dan kehutanan, sehingga berujung kepada terciptanya ancaman atas ketersediaan pangan dan penghidupan.

Pemanasan global akan meningkatkan temperatur, memperpendek musim hujan, dan meningkatkan intensitas curah hujan.  Kondisi ini dapat mengubah kondisi air dan kelembaban tanah yang akhirnya akan mempengaruhi sektor pertanian dan ketersediaan pangan.  Perubahan iklim dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah sebesar 2-8 %, sehingga menurunkan hasil panen beras.  Suatu model simulasi perubahan iklim telah memproyeksikan penurunan yang signifikan dari hasil panen di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Pemanasan global juga akan menaikkan level permukaan air laut, sehingga menggenangi daerah pesisir produktif yang sekarang digunakan sebagai lahan pertanian.  Misalnya, di daerah Karawang, Jawa Barat, suplai beras lokal akan mengalami reduksi besar sebagai dampak dari penggenangan tersebut.  Juga, kerugian dari sektor produksi ikan dan udang di daerah yang sama dapat mencapai angka sebesar lebih dari 7.000 ton.  Jika prediksi ini menjadi nyata, beribu-ribu petani di kawasan tersebut harus mencari sumber penghidupan yang lain.

Tak hanya itu, perubahan iklim juga akan meningkatkan dampak buruk dari wabah penyakit yang ditularkan melalui air atau vektor lain seperti nyamuk.  Pada akhir dekade 1990an, El Nino dan La Nina diasosiasikan dengan wabah malaria dan DBD.  Akibat dari meningkatnya temperatur, malaria kini juga mengancam daerah yang sebelumnya tak tersentuh karena suhu dingin, seperti dataran tinggi Irian Jaya (2013 m. di atas permukaan laut) pada tahun 1997 (Climate Hotmap).  Riset juga telah mengkonfirmasi hubungan antara peningkatan temperatur dan mutasi virus DBD.  Ini berarti kasus-kasus DBD yang ada menjadi lebih sulit ditangani dan menimbulkan lebih banyak korban jiwa.

Problem kesehatan lainnya juga dapat diperparah karena perubahan iklim.  Contohnya, manusia dengan penurunan fungsi jantung sangat mungkin menjadi lebih rentan dalam cuaca yang panas karena mereka membutuhkan energi lebih untuk mendinginkan tubuh mereka.  Suhu panas juga dapat mencetuskan masalah pernapasan.  Konsentrasi zat ozone di level permukaan tanah akan meningkat karena pemanasan suhu.  Ini akan menyebabkan kerusakan pada jaringan paru-paru manusia.

Indonesia menandatangani Protokol Kyoto pada tahun 1998 dan meratifikasinya di tahun 2004.  Kita memiliki kebijakan dan legislasi kehutanan yang cukup baik dalam konteks tujuan akhir manajemen hutan berkelanjutan.  Namun, masih ada kebutuhan yang sangat urgen akan perencanaan detail, anggaran, kesepakatan untuk pembagian informasi internasional, dan protokol standar, jika kita ingin siap sepenuhnya untuk menghadapi dampak perubahan iklim.


Balik ke Indeks


REFERENSI : World Bank’s Report “Indonesia and Climate Change”, 2007.

CATATAN : Artikel ini adalah bagian dari “Perubahan Iklim 101”, – yaitu bagian dari situs ini yang sedang dibangun untuk mengumpulkan dasar-dasar perubahan iklim dalam bahasa yang mudah dipahami.


468 ad