Kompetisi Untuk Jabatan Tertinggi Bidang Iklim Semakin Memanas

HassanWirajudaUN

Kompetisi untuk jabatan tertinggi bidang perubahan iklim di PBB semakin intens dengan bertambahnya jumlah kandidat yang berminat.  Setalah India dan Afrika Selatan menominasikan kandidatnya, Indonesia dan Kosta Rika pun kini menyatakan ambisinya atas pos Sekretaris Eksekutif UNFCCC.

Sejauh ini, para pakar menduga bahwa penerus suksesi dari Yvo de Boer akan berasal dari negara berkembang.  De Boer, yang akan lengser dari jabatan Sekretaris Eksekutif UNFCCC pada 1 Juli mendatang, adalah warga negara Belanda.  Banyak pihak mengharapkan bahwa penunjukan seorang kandidat dari negara berkembang untuk menduduki jabatan teras perubahan iklim ini akan menjembatani perbedaan yang semakin melebar antara negara maju dan berkembang.

Sekretaris Eksekutif UNFCCC dinominasikan oleh Sekretaris Jendral PBB setelah melewati konsultasi dengan berbagai pemerintahan dan para anggota biro perubahan iklim PBB; -yang memiliki perwakilan dari setiap daerah regional PBB.  Dukungan dari Amerika Serikat dan Uni Eropa sangat bersifat krusial.  Para pengamat mengatakan bahwa negara maju dapat memaknai penunjukan kandidat baru ini sebagai suatu wahana untuk menjangkau negara-negara yang tertinggal pembangunannya atau paling rentan terhadap perubahan iklim.

Dalam konteks ini, majunya Kosta Rika dalam nominasi terlihat menarik.  Kosta Rika, mengutus negosiator utamanya, Christiana Figueres, untuk masuk dalam bursa pertimbangan suksesor bagi De Boer.  Yang memperkuat pencalonan Figueres adalah dukungan yang ia miliki dari kebanyakan anggota AOSIS.  Ia dipandang sebagai “sekutu utama” dari pihak negara kepulauan kecil dalam kelompok G-77 dan UNFCCC secara luas.

Sementara itu, India menjadi pihak pertama yang mengumumkan pencalonannya, dengan menominasikan Vijai Sharma.  Akhir bulan lalu Menteri Lingkungan Jairam Ramesh mengatakan bahwa India telah memasukkan nama Sharma untuk dipertimbangkan Sekretaris Jendral PBB.  Ramesh juga mengatakan bahwa Cina memberi dukungan penuh bagi pencalonan Sharma.

Afrika Selatan lantas mengikuti dengan mengedepankan Menteri Pariwisata mereka, Martinus van Schalkwyk.  Para pejabat dalam pemerintahan Afrika Selatan secara eksplisit menyebut bahwa banyak organisasi dan negara-negara yang mengindikasikan bahwa kandidat mereka menjadi calon terkuat dalam proses nominasi ini.

Dengan bergabungnya dua negara dari kelompok BASIC dalam pencalonan ini, mungkin sekali akan dicapai suatu kesepakatan, -atau paling tidak kesepahaman sikap, saat Menteri Lingkungan dari India dan Afrika Selatan bertemu di Cape Town dalam rangka pertemuan BASIC pada akhir April mendatang.

Menariknya, negara kita pun tak mau ketinggalan.  Indonesia juga mengekpresikan ketertarikannya akan pos jabatan ini dengan mencalonkan mantan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda.  Klaim relevansi Indonesia didasarkan atas peran kunci Wirajuda dalam mencapai hasil kesimpulan dalam Konferensi COP di Bali pada 2007 yang lalu.

Dalam menngambil keputusan, Sekretaris Jendral PBB, Ban Ki-Moon diharapkan untuk menjunjung tinggi kebutuhan untuk membangun rasa saling percaya antara negara maju dan berkembang.  Penting baginya untuk mencegah pengulangan situasi yang terjadi dengan Yvo de Boer; -yang terlihat memiliki bias ke negara berkembang.  Amerika Serikat, khususnya, memandang bahwa de Boer lebih terlihat sebagai representasi dari Uni Eropa ketimbang seorang pemimpin yang netral.


468 ad