REDD : Selamatkan Hutan Indonesia Demi Masa Depan Dunia

Tropical Rainforest

Mungkin sudah tak relevan lagi untuk mempersoalkan apakah pemanasan global memang benar-benar terjadi atau tidak. Faktanya, seperti yang dikatakan oleh Tim Flannery dalam bukunya “The Weather Makers”, kebimbangan mengenai hal itu lebih sering didasari oleh propaganda yang sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu ketimbang gagasan ilmiah yang sahih.  Ini mengingatkan kita terhadap kampanye yang dilakukan oleh perusahaan – perusahaan tembakau besar dunia saat ramai mulai digoyang tentang bahaya rokok bagi kesehatan manusia.

Pun sudah sangat banyak studi dan riset yang meyakinkan kita bahwa CO2 adalah salah satu, – jika tak mau disebut sebagai yang terbesar dampaknya -, dari gas rumah kaca yang paling besar pengaruhnya terhadap semakin meningkatnya suhu bumi yang ditempati manusia dewasa ini.  Pertanyaan yang menjadi konsekuensinya mau tak mau berujung di satu hal : apa yang bisa dilakukan demi mengerem laju pertambahan emisi CO2 dalam atmosfer?

Berbagai mekanisme kemudian diajukan dalam usaha untuk menjawab pertanyaan ini.  Pemotongan emisi dalam suatu kuota tertentu, diversifikasi sumber bahan bakar alternatif dalam semangat clean energy, sampai perubahan dalam gaya hidup individual; semuanya ramai diwacanakan mulai dari pembicaraan sederhana antar teman, hingga kepada konferensi tingkat tinggi antar-negara.  COP-15 yang baru berlangsung di Copenhagen adalah salah satu bentuk kegelisahan dunia untuk menemukan solusi bagi masalah ini.

Salah satu hal yang belakangan ramai menjadi alternatif yang banyak mendapat dukungan adalah REDD.  Singkatan dari Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Developing Countries, secara sederhana REDD dapat diartikan sebagai sebuah mekanisme pengereman laju emisi global yang menawarkan insentif finansial kepada negara-negara yang terbukti dapat menjaga kelestarian hutan mereka sebagai paru-paru dunia.

Untuk dapat memahami pentingnya arti hutan tersebut, berikut adalah uraian sederhananya.  Tumbuhan hijau mengekstraksi CO2 dari udara melalui proses fotosintesis yang ia lakukan untuk menghasilkan nutrisi.  Hutan dunia menyimpan sekitar 300 milyar ton karbon, atau sekitar 40 kali dari total emisi karbon tahunan seluruh dunia.  Jika hutan-hutan tadi dihancurkan, karbon yang tersimpan olehnya akan terlepas ke atmosfer.  Akibatnya, hampir pasti bahwa perubahan iklim karena efek gas rumah kaca tak terhindarkan lagi.

Kembali ke REDD, program ini berjalan dalam kerangka sebagai berikut.  Sebut saja hutan Ulu Masen yang terdapat di Aceh, Indonesia.  Jaga kelestariannya, maka dalam 30 tahun ke depan, 100 juta ton karbon akan tercegah untuk mencemari atmosfer bumi.  Jumlah emisi tadi adalah setara dengan 50 juta flight dari London ke Sydney!  Besaran ini kemudian dapat dikonversikan menjadi carbon credit, yang nantinya dapat dijual kepada negara-negara industri maju untuk memenuhi target reduksi emisi karbon mereka.  Hasil perdagangan karbon ini ujung-ujungnya akan disalurkan kembali dalam usaha pelestarian hutan tersebut secara lebih kontinu.  Tak kalah pentingnya, laba dari penjualan carbon credit ini juga dapat, -dan harus-, digunakan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan tersebut.  Pada gilirannya, ini akan memberikan insentif kepada mereka agar tetap melindungi hutan Ulu Masen.

Antusiasme terhadap skenario ini sangatlah besar.  Ulu Masen baru-baru ini memperoleh dukungan berupa janji investasi dari bank Amerika, Merrill Lynch, sebesar 9 juta dolar.  “Ini memberikan kepastian bagi nasib proyek tersebut,” demikian ujar Dorjee Sun, chairman dari firma bernama Carbon Conservation, -yang membantu pemerintah propinsi Aceh untuk menyusun skema Ulu Masen.  Merril Lynch sendiri menyebut Ulu Masen sebagai “proyek anti deforestasi pertama di dunia yang dibiayai secara komersial.”  Hutan ini diduga akan menghasilkan carbon credit senilai 26 juta dolar di 5 tahun pertamanya.

Salah satu alasan mengapa ada ekspektasi besar tentang keberhasilan skema Ulu Masen adalah status uniknya sebagai kawasan hutan dalam propinsi Aceh.  Sebagaimana diketahui bersama, Aceh dalam beberapa dekade menjadi pusat kegentingan militer antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).  Ini membuat hutan yang ada dalam teritori mereka terlindungi dari berbagai macam perusakan yang sering terdengar akibat illegal logging seperti di bagian-bagian lain Pulau Sumatera lainnya.

Setelah GAM menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah pada tahun 2005 yang lalu,  sekarang Ulu Masen menjadi kawasan yang dilindungi dengan bantuan sepasukan polisi hutan yang mendapat pelatihan khusus dari sebuah organisasi konservasionis asal London, Flora and Fauna International (FFI).  Setiap hari mereka melakukan patroli untuk menjaga Ulu Masen tak hanya dari para penebang liar, tapi juga menjaga agar kawanan binatang liar tak merambah pemukiman penduduk lokal.  Ini sangat penting dilakukan demi keberhasilan program REDD, karena “komunitas lokal harus dijaga agar tak memiliki motivasi untuk menebang hutan ini,” tukas Matthew Linkie, technical manager dari FFI.

Lebih dari itu, mereka juga harus diberikan pemahaman bahwa ada insentif yang bisa diharapkan jika Ulu Masen tetap lestari.  Dan jika berbicara tentang insentif, yang paling efektif tentunya adalah dana segar.  Hasil penjualan carbon credit seperti yang dijelaskan di atas, nantinya akan disalurkan ke pembangunan sarana-sarana umum seperti sekolah, jembatan, dan tempat ibadah demi meningkatkan taraf hidup komunitas lokal.

Ulu Masen tak berjalan sendiri sebagai subyek REDD.  Di Indonesia, kini terdapat selusin lebih proyek REDD yang sedang berjalan.  Negara-negara lain seperti Brazil, Kamboja, Ekuador dan Liberia pun sedang berjalan di rel yang sama.  Semuanya demi sebuah visi bahwa suatu saat nantinya akan tercipta suatu infrastruktur global berbasis hutan yang berfungsi sebagai semacam sentra daur ulang gas CO2 menjadi oksigen.

Apakah visi tadi akan tercapai dalam waktu singkat?  Tentu saja tidak.  Namun satu hal telah pasti.  Pemanasan global akan terus terjadi sampai taraf berbahaya jika manusia tidak mengambil tindakan-tindakan preventif yang secara logis dapat direka keberhasilannya.


468 ad

0 Komentar

Trackbacks/Pingbacks

  1. uberVU - social comments - Social comments and analytics for this post... This post was mentioned on Twitter by fajarjasmin: REDD : Hutan Indonesia Demi Masa ...